Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Awal Tahun 2025 Stunting di Kota Jogja Naik Signifikan, Enam Kemantren Masuk Zona Merah

Iwan Nurwanto • Jumat, 18 April 2025 | 19:22 WIB
Ilustrasi anak stunting.
Ilustrasi anak stunting.

JOGJA - Prevalensi stunting di Kota Jogja mengalami kenaikan signifikan pada awal tahun ini. Sebab hingga bulan Februari tahun 2025 ini, diketahui angkanya telah menyentuh 12,13 persen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja Retnaningtyas mengatakan, prevalensi stunting memang mengalami kenaikan. Dikarenakan pada tahun 2024 hingga bulan Juni lalu prevalensinya hanya 10,07 persen.

Bahkan diketahui, enam kemantren di Kota Jogja masuk zona merah karena prosentase stuntingnya melampaui 12 persen. Meliputi Gedongtengen, Ngampilan, Kraton, Mergangsan, Gondomanan, dan Kotagede

Menurut Retnaningtyas, upaya percepatan penurunan tengah dilakukan pihaknya agar prevalensi stunting di Kota Jogja bisa turun dibawah 12 persen. Salah satu yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) 

“Memang perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak dalam upaya penurunan stunting,” ujar pejabat yang akrab disapa Eno itu, Jumat (18/4/2025).

Eno menjelaskan, TPPS memiliki tugas untuk membantu melaksanakan pencegahan serta percepatan penurunan stunting. Bentuknya dilakukan dengan program pendampingan bagi keluarga berisiko stunting.

DP3AP2KB Kota Jogja diketahui juga memiliki program lain seperti pembentukan kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Kemudian telah mengupayakan peningkatan kesetaraan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

"Selain itu kami juga ada program pelayanan bimbingan perkawinan, ibu hamil, ibu pasca persalinan, baduta, serta baduta lanjutan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani menilai, peran TPPS harus dimaksimalkan karena penanganan stunting harus terkoordinasi dengan baik. Dia pun optimistis melalui program tersebut angka stunting dapat turun dibawah 12 persen pada akhir tahun.

Dalam upaya penurunan stunting di wilayahnya, Emma mengungkap, pemerintah juga tengah menggagas program One Village One University atau Satu Kampung didampingi Satu Universitas. Sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Pendampingan dari perguruan tinggi ini bisa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan tema yang menyesuaikan karakter di kampung tersebut," bebernya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Angka stunting #Stunting #Prevalensi #naik