JOGJA - Dompet Dhuafa Yogyakarta memperluas kiprah sosialnya melalui program beasiswa pelatihan barberman.
Program ini ditujukan bagi masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dan ingin mandiri secara ekonomi.
Para peserta diberi pelatihan mencukur rambut secara profesional agar kelak dapat membuka usaha sendiri.
Program dimulai sejak 14 Februari 2025 dan berlangsung hingga April 2025. Sepuluh peserta dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Kediri, Kalimantan, dan Magelang mengikuti pelatihan selama dua bulan.
Materi meliputi teori, praktik kelas, hingga outing class ke masyarakat umum dan gerai barbershop.
Dompet Dhuafa menggandeng Akademi Arfa, bagian dari jaringan Arfa Barbershop Yogyakarta, sebagai mitra pelatihan.
Penanggung Jawab Beasiswa Barberman Dompet Dhuafa Jogjakarta Nasyidatul Rosyidah mengatakan, program ini dirancang sebagai bentuk respons atas meningkatnya angka PHK dan efisiensi tenaga kerja yang marak belakangan ini.
“Kami memberikan beasiswa kepada mereka yang sekiranya membutuhkan untuk memberdayakan masyarakat yang mulanya membutuhkan dana zakat, agar suatu saat bisa menjadi donatur zakat itu sendiri,” kata Rosyidah di Kantor Dompet Dhuafa Yogyakarta, Rabu (16/4/2025).
Profesi barberman dipilih karena permintaannya yang cukup tinggi. Termasuk saat pelaksanaan ibadah haji dan umrah, di mana jasa cukur rambut sangat dibutuhkan. Program ini juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru yang menjanjikan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu peserta, Handi Rizki Setya Aji, 24, mantan buruh pabrik makanan ringan di Yogyakarta yang terkena PHK massal pada akhir 2024.
Ia mengaku, program ini menjadi titik balik setelah dirinya terkena PHK dari pabrik makanan ringan tempatnya bekerja. Sejak SMA, Handi tertarik dunia barber, namun terkendala biaya kursus.
“Pas nyari kerjaan baru, saya lihat ada info lowongan program dari Dompet Dhuafa. Alhamdulillah lolos seleksi,” ujar pemuda asal Batang, Jawa Tengah ini.
Handi memulai pelatihan akhir Februari. Ia mengaku tak memiliki pengalaman mencukur sebelumnya, namun kini telah melakukan praktik langsung melalui kegiatan outing class ke masjid dan pesantren selama Ramadan.
Sebelumnya, mendapat materi pembelajaran teori selama dua minggu meliputi teknik potong rambut, analisis jenis rambut, hingga mempelajari kulit kepala.
“Setelah cukup teori dan praktik di kelas, kami diterjunkan ke lapangan. Saya sempat grogi saat pertama kali mencukur langsung, tapi makin ke sini sudah terbiasa,” jelas lelaki asal Batang, Jawa Tengah ini
Lebih dari sekadar menjadi tukang cukur, Handi melihat profesi barberman sebagai jalan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain.
Menurutnya, gaya rambut bisa membuat orang lebih percaya diri.
“Harapan saya, dengan jadi barberman, saya bisa membantu orang lain merasa lebih baik. Ini bentuk kebermanfaatan yang saya harapkan,” ujarnya.
Ke depan, Handi berharap bisa membuka barbershop sendiri dengan harga yang terjangkau.