JOGJA - Kondisi ekonomi yang kini tidak pasti menjadi salah satu perhatian Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo.
Sehingga, orang nomor satu di Kota Jogja itu berencana menggandeng masyarakat agar menjadi pekerja dalam program padat karya.
Hasto mengatakan, program padat karya menjadi salah satu upaya penting untuk mengatasi ekonomi masyarakat.
Sebab nantinya masyarakat akan terlibat langsung sebagai pekerja proyek dan mendapat upah dari anggaran pemerintah.
Dia menilai, langkah tersebut juga sebagai upaya mitigasi menghadapi banyaknya pemutusan hak kerja (PHK).
Sekaligus imbas kebijakan tambahan biaya ekspor sebesar 32 persen yang diterapkan kepada sejumlah negara termasuk Indonesia.
Hasto menyatakan, program padat karya nantinya akan disandingkan dengan rencana pembangunan di Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja. Misalnya seperti pembersihan rumput atau perbaikan kecil di Malioboro serta Kotabaru.
“Jadi tidak harus pakai alat-alat canggih. Sudahlah, itu padat karya saja. Supaya uangnya bisa terdistribusi kepada orang-orang banyak yang bekerja dari situ,” ujar Hasto, Minggu (13/4/2025).
Dalam program padat karya tersebut, kata Hasto, pemerintah kota (pemkot) nantinya akan memprioritaskan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Agar masyarakat yang ekonominya masuk kategori tersebut dapat bertahan di tengah ekonomi sulit.
Hasto pun menyampaikan, bahwa padat karya juga diharapkan dapat memaksimalkan program-program yang sudah disusun pada masa kepemimpinannya.
Salah satunya soal program penyelesaian masalah sampah untuk menjaga kebersihan kota.
"Melalui padat karya, kami bisa sambil menata yang sifatnya tidak terlalu mahal. Sekaligus bisa membuat kompleksitas baru ekonomi menengah ke bawah,” terangnya.
Sementara itu, Kepala DPUPKP Kota Jogja Umi Akhsanti mengaku, belum bisa membeberkan secara rinci program pembangunan apa saja yang bisa di padat karyakan.
Lantaran pihaknya belum memiliki konsep dan format yang pas untuk kebijakan tersebut.
“Kami masih membahas metodenya," beber Umi. (inu)
Editor : Bahana.