JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja bakal menghidupkan lima mesin insinerator. Upaya tersebut dilakukan agar sampah yang dihasilkan di Kota Jogja bisa terkelola seluruhnya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, pada akhir bulan April nanti dirinya menarget lima mesin insinerator bisa dihidupkan mengelola sampah.
Baik itu yang ditempatkan pada TPS3R di wilayah Kota Jogja. Maupun yang diluar kota seperti yang berada di ITF Bawuran, Pleret, Bantul.
Baca Juga: Sengketa Lahan di Stasiun Lempuyangan, PT KAI: SKT Warga Tak Bisa Jadi Bukti Kepemilikan Aset
Hasto menyampaikan, untuk saat ini baru ada dua mesin insinerator yang hidup. Sehingga dia mengupayakan agar seluruh mesin yang dimiliki Pemkot Jogja bisa beroperasi optimal.
Selain itu, pihaknya pun akan berkoordinasi dengan BUMD Panggungharjo agar bisa membantu pengolahan sampah di Kota Jogja.
Orang nomor satu di Kota Jogja itu optimis, dengan berbagai rencana yang disiapkan, pemkot mampu mengolah sampah hingga 235 ton per hari.
Baca Juga: Para Wakil Rakyat Dapil Jateng Apresiasi Forum Senayan Gagasan Ahmad Luthfi
Namun itu baru melalui program pengolahan sampah melalui mesin insinerator dan Refuse Derived Fuel (RDF).
“Kalau Jogja kan sampah 300 ton, kalau malam minggu atau sabtu minggu itu bisa lebih. Makanya kami masih membutuhkan Bawuran dan Panggungharjo,” ujar Hasto saat ditemui, Rabu (9/4/2025).
Selain merencanakan program tersebut, dia mengaku, pemkot juga telah menyiapkan rencana jangka panjang pengelolaan sampah. Yakni merubah perilaku masyarakat agar mau mengelola sampahnya sendiri.
Baca Juga: Uang Nasabah BUKP Wates Tak Cair, Nasabah Bingung 'Arep Sambat Karo Sopo?'
Upaya tersebut akan dikerjasamakan dengan universitas melalui program One Village One Sister University.
Melalui program tersebut, pemkot akan bekerjasama dengan perguruan tinggi di Yogyakarta agar bisa membantu edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah.
Sehingga mengolah sampah dari sumbernya benar-benar bisa menjadi budaya.
“Mahasiswa KKN akan saya minta untuk dikerahkan di satu kampung agar terus-menerus memberi edukasi,” terang Hasto.
Baca Juga: Dana Keistimewaan Rp 750 Juta Digunakan untuk Membangun Lumbung Mataraman Dewi Sri Purwosari
Disisi lain, Pemkot Jogja juga berupaya mencegah pembuangan sampah liar. Upaya tersebut diwujudkan dengan pendirian posko darurat sampah yang ditempatkan pada titik-titik rawan sampah liar.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jogja Octo Noor Arafat menyampaikan, hingga saat ini jumlah posko darurat sampah sebanyak 27 posko.
Pendirian posko diharapkan dapat mengantisipasi masih banyaknya warga yang membuang sampah secara sembunyi-sembunyi.
“Untuk saat ini kami masih melakukan sosialisasi, namun dalam waktu dekat kami akan mempertegas pelarangan pembuangan sampah sembarangan dengan memaksimalkan fungsi posko darurat,” katanya. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita