Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Angin Segar Sektor Pariwisata, APPBI DIY Prediksi Kunjungan Mal Meningkat Jelang Lebaran

Gregorius Bramantyo • Kamis, 20 Maret 2025 | 03:41 WIB

 

Ilustrasi pengunjung saat berada di mal wilayah DIY.
Ilustrasi pengunjung saat berada di mal wilayah DIY.

JOGJA – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY memperkirakan peak season kunjungan ke mal akan melonjak pada pekan depan hingga beberapa hari setelah Lebaran.
 
APPBI DIY menyebut, mulai pekan lalu, peningkatan arus masuk belanja sudah sangat terlihat.

Ketua APPBI DIY Surya Ananta mengatakan, pertengahan Ramadan saat ini akan menjadi awal dari masa peak season yang mulai meningkat.
 
Baca Juga: Cobaan bagi PSS Sleman Tambah, Cedera MCL Fachruddin Aryanto Harus Akhiri Musim Lebih Cepat
 
Terutama pada pekan depan, di mana ada cuti pribadi dan cuti bersama yang membuat arus kunjungan semakin meningkat.
 
“Di situ arus (kunjungan) semakin meningkat,” katanya, Rabu (19/3/2025).

Dia menyebut, melonjaknya kunjungan itu juga bisa didukung dengan dibukanya tol fungsional untuk libur Lebaran.
 
Baca Juga: Hasil Kajian hingga Penetapan Pengadilan, Pencipta Lagu Indonesia Raya WR Supratman Lahir di Kaligesing, Purworejo
 
Peningkatan kunjungan ini diperkirakan akan terus terjadi hingga sepekan setelah Lebaran karena cuti bersama berlanjut hingga pekan kedua April.
 
“Setelah 7 April, arus kunjungan perlahan-lahan akan kembali stabil,” ujar Surya.

Meski ada isu terkait penurunan atau pelemahan daya beli masyarakat, Surya menyebut asosiasinya tidak bisa secara langsung mengukur penurunan daya beli.
 
Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran, Gubernur Jateng Bersama Kapolri Cek Kesiapan Pos Terpadu dan Layanan Valet Ride
 
Sebab pengunjung yang melakukan aktivitas belanja tidak bisa diamati secara terus menerus secara perorangan.
 
“Sehingga yang kami amati adalah transaksi yang ada di dalam mal,” jelasnya.

Menurutnya, jika memang ada penurunan daya beli, maka itu tidak serta merta membuat orang tidak belanja. Namun masyarakat akan mengurangi uang yang dibelanjakan.
 
Misalnya dari yang biasa mengeluarkan Rp 100 ribu, kini jadi Rp 80 ribu.

Baca Juga: Tren Model Baju Lebaran 2025 Warna Elegan, Cocok untuk Keluarga dan Segala Umur
 
“Artinya tenant atau yang jual barang di mal harus mengatur ketersediaan barang seharga Rp 80 ribu, jangan ngotot di Rp 100 ribu,” katanya.

Surya menuturkan, jika terjadi penurunan daya beli, dampak ke DIY tidak terlalu tinggi.
 
Sebab DIY tidak hanya mengandalkan penduduk lokal. Menurutnya, pendatang masih banyak yang masuk ke DIY sehingga bisa menolong saat terjadi penurunan daya beli.

Baca Juga: Melalui #IDMigunani Bagikan 3.000 Paket Sembako, TWC Bagikan 1.200 di Sekitar Candi Borobudur
 
Dia menyebut, dampak pelemahan daya beli belum terlihat di dalam pusat perbelanjaan seperti mal.
 
Tenant di mal sendiri terdiri dari resto dan non-resto. Untuk sektor resto, kata Surya, masih cukup bagus karena didukung dengan momen buka puasa bersama.
 
“Meskipun ada pelemahan tapi di sisi lain ada solusi dan peningkatan, jadi ini saling menutupi,” ujarnya.

Baca Juga: Rakor KPK Digelar di Jogja, Libatkan Enam Kepala Daerah, Perkuat Komitmen Anti Korupsi
 
Berbeda dengan sektor non-resto, khususnya pakaian. Meskipun ada penurunan daya beli, tapi situasinya kini berbeda menjelang lebaran.
 
Ditambah dengan adanya tunjangan hari raya (THR) yang telah dibagikan.
 
Otomatis ada peningkatan pengeluaran untuk membeli pakaian persiapan lebaran.

“Ini juga menjelang lebaran, plus THR dari kemarin sampai dua hari ke depan dibagikan. Otomatis masyarakat ada spending baju persiapan lebaran,” kata Surya. (tyo)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kunjungan mal #APPBI DIY #peak season #libur lebaran #jelang lebaran #meningkat