Gregorius Bramantyo• Kamis, 20 Maret 2025 | 03:41 WIB
Ilustrasi pengunjung saat berada di mal wilayah DIY.
JOGJA – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY memperkirakan peak season kunjungan ke mal akan melonjak pada pekan depan hingga beberapa hari setelah Lebaran.
APPBI DIY menyebut, mulai pekan lalu, peningkatan arus masuk belanja sudah sangat terlihat.
Ketua APPBI DIY Surya Ananta mengatakan, pertengahan Ramadan saat ini akan menjadi awal dari masa peak season yang mulai meningkat.
Peningkatan kunjungan ini diperkirakan akan terus terjadi hingga sepekan setelah Lebaran karena cuti bersama berlanjut hingga pekan kedua April.
“Setelah 7 April, arus kunjungan perlahan-lahan akan kembali stabil,” ujar Surya.
Meski ada isu terkait penurunan atau pelemahan daya beli masyarakat, Surya menyebut asosiasinya tidak bisa secara langsung mengukur penurunan daya beli.
Sebab pengunjung yang melakukan aktivitas belanja tidak bisa diamati secara terus menerus secara perorangan.
“Sehingga yang kami amati adalah transaksi yang ada di dalam mal,” jelasnya.
Menurutnya, jika memang ada penurunan daya beli, maka itu tidak serta merta membuat orang tidak belanja. Namun masyarakat akan mengurangi uang yang dibelanjakan.
Misalnya dari yang biasa mengeluarkan Rp 100 ribu, kini jadi Rp 80 ribu.
“Artinya tenant atau yang jual barang di mal harus mengatur ketersediaan barang seharga Rp 80 ribu, jangan ngotot di Rp 100 ribu,” katanya.
Surya menuturkan, jika terjadi penurunan daya beli, dampak ke DIY tidak terlalu tinggi.
Sebab DIY tidak hanya mengandalkan penduduk lokal. Menurutnya, pendatang masih banyak yang masuk ke DIY sehingga bisa menolong saat terjadi penurunan daya beli.
Dia menyebut, dampak pelemahan daya beli belum terlihat di dalam pusat perbelanjaan seperti mal.
Tenant di mal sendiri terdiri dari resto dan non-resto. Untuk sektor resto, kata Surya, masih cukup bagus karena didukung dengan momen buka puasa bersama.
“Meskipun ada pelemahan tapi di sisi lain ada solusi dan peningkatan, jadi ini saling menutupi,” ujarnya.
Berbeda dengan sektor non-resto, khususnya pakaian. Meskipun ada penurunan daya beli, tapi situasinya kini berbeda menjelang lebaran.
Ditambah dengan adanya tunjangan hari raya (THR) yang telah dibagikan.
Otomatis ada peningkatan pengeluaran untuk membeli pakaian persiapan lebaran.
“Ini juga menjelang lebaran, plus THR dari kemarin sampai dua hari ke depan dibagikan. Otomatis masyarakat ada spending baju persiapan lebaran,” kata Surya. (tyo)