JOGJA - Pasar Pasan Kotagede kembali digelar tahun ini selama bulan Ramadan. Tahun ini Pasar Pasan menyuguhkan konsep yang berbeda. Penyelenggaraan yang awalnya setiap hari, kini diganti hanya setiap akhir pekan. Kemudian lokasi tahun sebelumnya di sepanjang Jalan Mondorakan, kini pindah di situs cagar budaya Between Two Gates Kotagede.
"Kami ingin mengombinasikan antara aktivitas UMKM dengan wisata heritage, sekaligus sebagai promosi," ujar Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PCM Kotagede Rokhmat Fakhruddin saat dikonfirmasi, Minggu (16/3/2025).
Pasar Pasan merupakan program dari Majelis Pemeberdayaan Masyarakat PCM Kotagede yang menginjak tahun kedua diselenggarakan. Program tersebut bertujuan memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan.
Berbeda dengan pengelenggaraan tahun sebelumnya, tahun ini Pasar Pasan diselenggarakan setiap akhir pekan. Pedagang berjualan di area yang telah ditentukan hanya di hari Sabtu-Minggu selama bulan Ramadan.
"Tahun lalu kan full setiap hari, memang konsepnya gitu agar pemgunjung juga kangen dan tidak bosen dengan beetwen two gatesnya," tuturnya.
Menurutnya, penyelenggaraan Pasar Pasan cukup menyita atensi masyarakat. Namun hingga penyelenggaraannya yang ketiga, jumlah pengunjung memang belum sesuai prediksi.
"Kebetulan pas sore kok hujan terus, jadi mungkin karena hujan jadi tidak begitu ramai," bebernya.
Selain menawarkan menu takjil, Pasar Pasan juga mengadakan beberapa program untuk menemani ngabuburit atau menunggu waktu buka. Terdapat tiga agenda utama dalam penyelenggaraan Pasar Pasan tahun ini.
"Ada pameran Seabad Muhammadiyah Kotagede, Kegiatan Sasar-Susur dan sebagainya," jelasnya.
Beberapa kolaborator ikut dilibatkan dalam agenda Sasar-Susur seperti Alon Mlampah, Djejakrasa dan Lawang Pethuk.
Konsep Sasar-Susur semacam perjalanan untuk mengenalkan sejarah-sejarah yang ada di Kotagede.
"Ada sejarah Gastronomi dan juga sejarah Muhammadiyah dan PKI di Kotagede," terangnya. (oso)