JOGJA - Keputusan ekstrem bakal diambil oleh Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo selama masa kepemimpinannya. Salah satunya terkait dengan pembinasaan atau pembubaran terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dirasa tidak produktif.
Hasto mengatakan, memang menaruh perhatian serius terhadap BUMD di Kota Jogja. Bahkan dirinya pun siap melakukan evaluasi besar-besaran hingga pembubaran badan BUMD. Terlebih bagi badan usaha yang tidak memberi keuntungan kepada daerah.
Sebagaimana diketahui Pemkot Jogja memiliki tiga BUMD. Meliputi:
1. Bank Jogja,
2. PDAM Tirtamarta,
3. XT Square atau Jogjatama Vishesha.
Hasto menegaskan, badan usaha daerah tersebut akan diurai satu per satu untuk melihat bagaimana kontribusinya kepada keuangan daerah.
“BUMD yang tidak produktif akan saya evaluasi, kalau bleeding terus ya kenapa tidak bubarkan saja,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Senin (10/3/2025) malam.
Mantan Bupati Kulonprogo itu pun mendorong agar BUMD Kota Jogja untuk melahirkan berbagai program inovatif. Misalnya untuk PDAM Tirtamarta diminta untuk menurunkan harga layanan perpipaan rumah tangga Rp 1,6 juta menjadi Rp 500 ribu agar semakin banyak langganan.
Hasto juga menyoroti kehadiran Bank Jogja yang tidak memberi keuntungan signifikan kepada daerah. Sebab pemkot sudah melakukan penyertaan modal sebesar Rp 154 miliar. Namun menurutnya bank daerah tersebut hanya mampu memberi kontribusi keuangan daerah sebesar Rp 4 miliar per tahun.
Menurut dia, hal tersebut adalah bentuk investasi yang tidak menguntungkan. Sebab jika uang milik pemkot sebesar Rp 154 miliar ditaruh deposito. Maka pemkot kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 9 miliar per tahun.
Baca Juga: WFA Solusi Atasi Kemacetan saat Mudik tapi Efektivitas Pelayanan Publik Dipertanyakan
Kemudian untuk XT Square, diakui Hasto, dirinya memang hanya bisa melakukan audit. Walaupun demikian pihaknya tetap akan melakukan tindakan tegas terhadap badan-badan usaha yang memang tidak menguntungkan.
“Kalau memang tidak bisa dibina ya terpaksa dibinasakan, karena kalau bleeding terus ya membebani keuangan daerah, wong bikin usaha kok malah tombok,” kata Hasto. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin