JOGJA - Rangkaian acara Hadeging Kadipaten Pakualaman (HKPA) Ngayogyakarta atau peringatan berdirinya Kadipaten Pakualaman ke 213 tahun akan diselenggarakan 25 April- 25 Juni. Pemaknaan Sengkalan Manggala Gati Wiwaraning Rat Dijadikan Tema Hadeging Kadipaten Pakualaman ke 213 Tahun Ini.
"Tema tersebut ditujukan pada para pemuda agar perhatian terhadap orang yang lebih tua dan berpengalaman itu diutamakan untuk belajar menghadapi tantangan masa depan," ujar Putra Sulung KGPAA Paku Alam X BPH Kusumo Bimantoro kepada awak media, Jumat (28/2).
Dalam penaggalan Tahun Jawa, peringatan tersebut jatuh pada Tahun Jawa Je 1958. Terdapat sengkalan berbunyi Manggala Gati Wiwaraning Rat yang artinya Pimpinan penuh perhatian merupakan gerbang kesejahteraan dunia. Sengkalan merupakan penanda waktu yang berwujud rangakain kata yang memiliki makna berupa bilangan.
"Berangkat dari itu, kemudian kami tentukan sebagai tema peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman tahun ini," tuturnya.
Kadipaten Pakualaman berdiri tanggal 22 Juni 1812 Masehi atau 11 Jumadil Akhir tahun Alip 1739 dalam penanggalan Jawa. Artinya salah satu kerajaan Trah Mataram Islam itu saat ini memasuki usia ke 219 jika menggunakan kalender tahun Jawa.
"Pengangkatan Pangeran Natakusuma yang berstatus Pangeran Merdika hingga mendapat gelar KGPAA Paku Alam 1 menjadi dasar tanggal berdirinya Kadipaten Pakulaman," tuturnya.
Ketua Panitia HKPA 2025 KRT Radyowisroyo menambahkan rangakaian acara telah dimulai bulan Desember, lalu. Rangakain diawali dengan upacara adat Bucalan, ziarah makam dan wilujengan.
Selanjutnya akan diadakan kegiatan sosial, Dharma Mulyarja di Kulon Progo mulai 4 Juni. Kegiatan tersebut diantaranya pemenuhan gizi sehat balita stunting, sosialisasi kesehatan ibu hamil dan khitanan bersama.
"Pasar murah juga akan dilaksanakan di sekitar Pura Pakualaman," terangnya.
Berbagai jenis perlombaan seni dan budaya juga akan diadakan. Sekitar delapan lomba seperti kaarawitan, melukis hingga tari klasik yang akan diadakan mayoritas diperuntukkan untuk siswa tingkat TK hingga mahasiswa.
"Ini adalah upaya untuk mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda," ujarnya.
Para juara dalam berbagai lomba tersebut juga akan mendapatkan apresiasi dalam bentuk nilai tambahan untuk siswa yang akan mencari sekolah. Hal tersebut bekerjasama dengan pihak dinas pendidikan setempat dalam hal teknis penerapan.
"Untuk lukisan kemungkinan juga akan dipamerkan di kawasan Pura Pakualaman setelah perlombahan berakhir," tuturnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin