Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kampung Miliran Gelar Tradisi Ruwahan Bertema Pluralisme, Umat Lintas Agama Ngapem Bareng

Iwan Nurwanto • Minggu, 23 Februari 2025 | 21:49 WIB
BUDAYA: Masyarakat Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo Kota Jogja saat menggelar tradisi ruwahan pada Minggu (23/2/2025).
BUDAYA: Masyarakat Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo Kota Jogja saat menggelar tradisi ruwahan pada Minggu (23/2/2025).

JOGJA - Masyarakat Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo Kota Jogja menggelar tradisi ruwahan pada Minggu (23/2/2025). Uniknya, dalam kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh umat muslim saja. Namun seluruh umat beragama yang berdomisili di Miliran.

Lurah Muja Muju Aris Sukrisna mengatakan, ruwahan merupakan salah satu adat rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan itu memiliki tujuan mengenang leluhur atau sanak keluarga yang sudah meninggal dunia.

Aris menyampaikan, bahwa tradisi ruwahan yang dilaksanakan di Kampung Miliran juga dikemas dengan konsep pluralisme. Sehingga tidak hanya diikuti oleh umat muslim yang akan menjalankan ibadah puasa saja. Namun juga umat beragama lain seperti Katolik, Kristen, dan Budha pun ikut memeriahkan tradisi tersebut.

Tradisi ruwahan di Kampung Miliran dikemas dengan mendoakan dan membersihkan makam. Lalu dilanjutkan kirab bregodo dan pementasan tari-tari tradisional, lalu ada pula doa lintas agama dan ditutup dengan rayahan gunungan apem dan makan bersama.

Dia menerangkan, tradisi ruwahan juga digelar untuk mendukung predikat kampung rintisan budaya di Miliran. Sekaligus melestarikan tradisi yang sudah ada di masyarakat dan meningkatkan solidaritas antar umat beragama yang sampai saat ini hidup rukun di Kampung Miliran.

“Acara ini untuk merekatkan persaudaraan dan keharmonisan masyarakat yang kami kemas dalam tradisi ruwahan,” ujar Aris saat ditemui disela acara.

Ketua Kampung Miliran Tri Harum Murti menambahkan, bahwa tradisi ruwahan itu diikuti oleh warga dari 4 RW dan 16 RT di Kampung Miliran. Total pesertanya sendiri mencapai 400 orang.

Tri menyebut, masyarakat dari tiap RT juga menampilkan berbagai kesenian khasnya masing-masing. Meliputi kirab bregodo, kesenian tari tradisional, hingga ada yang menyiapkan berbagai hidangan khas tradisi tersebut.

“Kegiatan ini memang menjadi tradisi bagi warga Kampung Miliran ketika akan memasuki bulan puasa,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Ruwahan Kampung Miliran Herry Santoso Wibowo menyampaikan, ketan kolak apem adalah makanan paling populer dalam tradisi tersebut. Selain penyajiannya yang mudah, ketan kolak apem juga memiliki makna filosofis yang penuh pesan moral.

Yakni sebagai simbol permintaan maaf setulus hati atas kesalahan diri sendiri dan keluarga/leluhur. Serta dimaknai sebagai kebulatan tekad untuk mendekatkan diri serta memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Namun pada intinya tradisi ruwahan bertujuan untuk mengirim doa untuk para leluhur yang sudah meninggal,” terang Herry. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#ruwah #Miliran #Miliran Kota Jogja #ruwahan