JOGJA - Program cek kesehatan gratis (CKG) di DIY telah diakses oleh 2.652 orang. Hanya saja, baru sekitar 30 persen yang terlayani.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Pembajun Setyaningastutie menuebut, jumlah pengakses tersebut seluruhnya terdaftar pada aplikasi Satu Sehat. Namun memang, baru sekitar 790 orang yang mendapat pelayanan. Hal ini karena puskesmas memiliki kendala. Yakni penyesuaian CKG dengan program yang sudah ada.
“Masih ada pelayanan lain yang harus dijalankan, kan bukan terus di-stop, karena ada yang sakit dan perlu diobati," bebernya usai melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X di Kompleks Kepatihan Selasa (18/2).
Kendala selanjutnya yakni terkait stok bahan habis pakai di puskesmas. Meliputi masker, jarum suntik, sarung tangan medis, selang oksigen, hingga benang operasi. "Sampai saat ini teman-teman (Puskesmas) masih menggunakan bahan yang ada dulu," ujarnya.
Menurutnya, penyediaan dan anggaran untuk membeli bahan habis pakai harus melalui penghitungan yang matang. Hal itu supaya anggaran bisa cukup untuk pelaksanaan program sampai akhir tahun.
"Jadi sekarang saya katakan hampir semua puskesmas memakai bahan habis pakai, cadangan (stok, Red) dari puskesmas," jelasnya.
Dia berharap bantuan sarpras tersebut bisa segera didatangkan dari pemerintah pusat. Mengingat program tersebur juga dilakukan secara mendadak. Sehingga penyesuaian teknis penyelenggaraan dirasa diperlukan.
"Kami berharap akhir bulan ini sesuai dengan janji pemerintah pusat akan ada dropping (bahan habis pakai, Red) untuk pelaksanaan CKG," tuturnya.
Pemprov DIY optimistis, target sasaran CKG dari pemerintah pusat dapat terpenuhi. "Target pemerintah pusat tahun 2025 sebanyak 55 persen penduduk sudah melakukan cek kesehatan gratis," tuturnya.
Upaya untuk memenuhi sasaran target dilakukan melalui pendekatan dan kerja sama dengan masyarakat. Seperti pesan wakil gubernur DIY, yakni melalui kelompok PKK hingga karang taruna. "Masyarkaat jangan dijadikan objek, harus dimotivasi agar mereka sadar bahwa program tersebut adalah kebutuhan," bebernya. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita