JOGJA - Potensi bencana hidrometeorologi diprediksi mengintai Kota Jogja selama bulan Februari 2025.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja pun melakukan upaya mitigasi dengan menambah sembilan lokasi early warning system (EWS) banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, pihaknya kini telah memiliki 26 EWS banjir setelah sembilan EWS resmi aktif dan disimulasikan pada pada Kamis (13/2/2025).
Sembilan lokasi EWS otomatis tambahan itu terpasang pada tiga sungai besar yang mengaliri Kota Jogja.
Meliputi Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong.
Untuk rinciannya, aliran Sungai Winongo berada di Kampung Ledok Tukangan, Jagalan Beji, dan Sorosutan.
Kemudian untuk EWS yang dipasang di Sungai Winongo berada di Kampung Serangan, Gampingan dan Suryowijayan.
Sementara di Sungai Gajah Winongo, EWS akan dipasang di Kampung Gendeng Timur, Balirejo, dan Tegalgendu.
“Penambahan EWS kami lakukan pada lokasi-lokasi yg dirasa perlu mendapat dukungan lebih jauh untuk deteksi dini banjir,” ujar Nur saat dikonfirmasi, Kamis (13/2/2025).
Nur menyampaikan, dengan total 26 EWS banjir yang kini aktif diharapkan masyarakat dan pemerintah bisa semakin meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana khususnya banjir.
Apalagi, dari prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sepanjang bulan Februari 2025 potensi bencana hidrometeorologi akan mengintai wilayah DIY.
Dia pun mengimbau, agar masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai untuk senantiasa waspada terhadap bencana hidrometeorologi.
Upayanya dapat dilakukan dengan selalu memantau informasi terkait dengan prakiraan cuaca, memastikan kesiapan jalur evakuasi, dan menyiapkan langkah mitigasi pada lingkungan masing-masing.
Terkait dengan jumlah kejadian bencana hidrometeorologi di Kota Jogja.
Selama kurun tanggal 1 hingga 30 Januari 2025 BPBD Kota Jogja mencatat ada 14 kejadian bencana.
Meliputi dua kejadian talud longsor, delapan kejadian pohon tumbang, tiga kejadian dahan patah, dan satu kejadian tanah ambles.
“Kami mengingatkan agar masyarakat dapat memahami ancaman bencana apa yang bisa terjadi di wilayah tempat tinggalnya,” imbuh Nur.
Sementara itu, Ketua Kampung Tangguh Bencana (KTB) Tegalgendu Istiawan berharap, dengan adanya pemasangan EWS di Sungai Gajah Wong bisa semakin mempercepat deteksi bencana banjir.
Sehingga upaya mitigasi pun dapat segera dilakukan guna meminimalisasi korban jiwa.
Menurutnya, pemasangan EWS di kampung Tegalgendu juga tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Namun juga warga di luar Kota Jogja pun akan semakin siaga dengan bencana banjir karena kampung Tegalgendu berbatasan langsung dengan kabupaten Bantul.
“Tentunya dengan ini (EWS) bisa mempercepat evakuasi dan meminimalisasi dampak risiko bagi masyarakat atau warga di sekitar sungai Gajah Wong,” terang Istiawan.
Terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menyampaikan, pada bulan Februari ini merupakan puncak musim penghujan.
Intensitas hujan diprediksi berkisar 201 hingga 500 mm (kriteria menengah-tinggi) dengan sifat hujan bervariasi normal dan atas normal.
Reni menjelaskan, puncak musim penghujan di DIY berlangsung dari bulan Desember 2024 hingga Februari 2025.
Kemudian. akhir musim penghujan diprediksi terjadi pada dasarian satu hingga dua pada bulan Mei 2025.
“Puncak musim hujan wajib diwaspadai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang."
"Terutama di daerah-daerah rawan bencana,” bebernya. (inu)