JOGJA – Efisiensi anggaran belanja tahun 2025 berdampak terhadap sektor pariwisata di DIY. Salah satunya terhadap dukungan dari Dinas Pariwisata (Dispar) kepada industri pariwisata.
Kepala Dispar DIY Imam Pratanadhi mengungkapkan, adanya efisiensi anggaran itu membuat pihaknya terbatas dalam memberikan dukungan untuk industri pariwisata. Seperti penyelenggaraan event dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui sertifikasi, yang sebelumnya bisa difasilitasi.
Meski demikian, Imam menekankan pentingnya kolaborasi di antara pelaku industri pariwisata.
"Kami selalu mengingatkan untuk tidak hanya fokus pada kompetisi dan persaingan, tetapi lebih kepada kolaborasi," ujarnya, Rabu (12/2/2025).
Namun begitu, Imam belum menjelaskan detail terkait jumlah anggaran yang dipangkas. Dia menyebut bahwa meskipun terdapat pengurangan, Dispar DIY tetap mendapatkan dukungan dari dana keistimewaan (danais).
"Kami harus benar-benar memprioritaskan anggaran yang tersedia untuk memastikan bahwa meskipun terbatas, kami dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran secara efisien," katanya.
Menurutnya, strategi promosi pariwisata pun juga menghadapi keterbatasan. Namun Imam menyatakan, pihaknya tetap berupaya maksimal dengan melakukan kolaborasi bersama pelaku industri untuk meningkatkan partisipasi mereka.
"Kami juga memanfaatkan promosi digital dengan skala yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, agar dapat mempromosikan pariwisata secara efisien dan hemat biaya," jelasnya.
Terkait target pariwisata di 2025, Imam optimistis sektor ini akan tetap berkembang. Dia yakin dinasnya dapat meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) hingga 150 ribu kunjungan pada 2025. “Meskipun tetap memperhatikan kapasitas daya tampung destinasi wisata di DIY," ujarnya.
Imam menuturkan, Dispar DIY menargetkan jumlah kunjungan wisata bisa terus meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga bisa memberikan kontribusi pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto mengatakan, pengetatan anggaran berdampak pada promosi pariwisata yang semakin terbatas. Menurutnya, kondisi ini cukup dilematis. Lantaran pasar Asia dan Eropa yang menjadi target DIY tidak pernah tersentuh promosi.
Bobby menyebut, promosi yang semakin terbatas akan berdampak pada kunjungan wisman. Sebagian market yang seharusnya ke Indonesia diperkirakan akan memilih Vietnam.
“Ada atau tidaknya dukungan dari pemerintah, industri ini tetap harus jalan untuk promosi. Ini menjadi bagian untuk menjaga eksistensi pariwisata DIY,” katanya. (tyo)
Editor : Sevtia Eka Novarita