Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Akhir Musim Hujan Terjadi Mei, Intensitas Hujan di Yogyakarta Diprediksi Mulai Menurun Maret: Ini Penjelasan BMKG..

Iwan Nurwanto • Selasa, 11 Februari 2025 | 03:52 WIB

 

Kaca mobil yang berkabut saat musim hujan.
Kaca mobil yang berkabut saat musim hujan.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengungkap potensi penurunan intensitas hujan pada bulan Maret mendatang.

Meskipun demikian, masyarakat tetap diminta untuk waspada potensi bencana hidrometeorologi dalam masa transisi musim penghujan ke kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan dinamika atmosfer dan laut untuk wilayah Yogyakarta terpantau ada monsun Australia aktif.

Kondisi itu juga membuat adanya La Nina kategori lemah hingga bulan Mei 2025 mendatang.

Kemudian untuk curah hujan hingga tiga dasarian ke depan, Reni menyebut, intensitas hujan dari dasarian dua Februari hingga dasarian satu Maret dimungkinkan masih menengah-tinggi.

Kemudian akan menurun seiring masuknya musim kemarau.

“Selama bulan Februari sifat hujan bawah normal dan atas normal,” ujar Reni, Senin (10/2/2025).

Sementara, untuk intensitas hujan hingga tiga bulan ke depan. Reni mengungkap, pada bulan Februari diprediksi berkisar 201-500 mm (kriteria menengah–tinggi) dengan sifat hujan bervariasi normal dan atas normal.

Kemudian pada bulan Maret dimungkinkan menurun, ini karena curah hujan diprediksi berkisar 201-500 mm (kriteria menengah–tinggi) dengan sifat hujan bervariasi bawah normal dan atas normal.

Sementara untuk April diprediksi berkisar 101-300 mm (kriteria menengah dengan sifat hujan bawah normal dan atas normal).

Baca Juga: Jadwal Grup C Piala Asia U20 2025, Dibuka Uzbekistan vs Yaman, Diikuti Iran vs Indonesia

Reni menjelaskan, puncak musim penghujan di DIY berlangsung dari Desember 2024 hingga Februari 2025.

Kemudian akhir musim penghujan diprediksi terjadi pada dasarian satu hingga dua pada Mei tahun ini.

“Puncak musim hujan wajib diwaspadai bencana hidrometerologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang. Terutama di daerah-daerah rawan bencana,” pesannya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyampaikan, telah menambah sembilan EWS banjir otomatis untuk menghadapi potensi bencana di musim penghujan.

Sistem peringatan dini bencana banjir itu dipasang di Sungai Gajah Wong, Code dan Winongo.

Untuk rinciannya, aliran Sungai Winongo berada di Kampung Ledok Tukangan, Jagalan Beji, dan Sorosutan.

Kemudian untuk EWS yang dipasang di Sungai Winongo berada di Kampung Serangan, Gampingan dan Suryowijayan.

Sementara di Sungai Gajah Winongo, EWS akan dipasang di Kampung Gendeng Timur, Balirejo dan Tegalgendu.

“Dengan EWS otomatis tentu lebih cepat respon time-nya karena level permukaan air terpantau lebih akurat dan sistem peringatan akan bekerja lebih responsif,” katanya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kemarau #bmkg yogyakarta #waspada #musim hujan #intensitas hujan #Hujan #menurun