JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta agar masyarakat tetap mewaspadai adanya gelombang tinggi di pesisir selatan. Sebab, kehadiran siklon tropis di wilayah DIY cukup berpengaruh terhadap kondisi gelombang.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil pantauan pihaknya masih terdapat sejumlah siklon yang terjadi di wilayah DIY. Kondisi tersebut menurutnya akan sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut di Yogyakarta.
Warjono mengungkap, dari hasil pengamatan BMKG Yogyakarta saat ini ada empat siklon yang berada di wilayah DIY. Meliputi siklon tropis 99S, siklon tropis 90S, siklon tropis Taliah, serta yang terbaru muncul bibit siklon tropis 92W.
Meskipun keempat siklon tersebut perlahan menjauh dari Pulau Jawa, dia meminta agar masyarakat tetap waspada. Sebab gelombang tinggi kemungkinan masih akan terus terjadi selama periode bulan Februari ini.
“Secara periodik kemungkinan gelombang tinggi akan terus terjadi selama bulan Februari, namun jika ada lagi tropikal siklon yang mendekat kemungkinan bisa lebih tinggi lagi,” ujar Warjono, Kamis (6/2/2025).
Dari laporan harian BMKG Yogyakarta, kondisi gelombang laut di perairan Yogyakarta memang masuk kategori tinggi. Selama sepekan terakhir bahkan ketinggian gelombang laut dapat mencapai kisaran 2,5 hingga 4 meter.
Dengan kondisi itu, Warjono pun meminta agar masyarakat waspada terhadap potensi gelombang tinggi. Terlebih bagi yang berprofesi sebagai nelayan dan wisatawan.
“Kami juga meminta agar masyarakat di wilayah perkotaan untuk waspada bencana hidrometeorologi, karena masih ada kemungkinan turun hujan lebat disertai angin kencang,” imbuhnya.
Terkait dengan kesiapan Pemerintah kota (Pemkot) Jogja dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengaku akan menguatkan peran Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB).
Dalam upaya tersebut, Nur memastikan, pihaknya juga melibatkan berbagai unsur. Seperti Kampung Tangguh Bencana (KTB), Tim Reaksi Cepat (TRC) serta relawan. Sehingga kehadiran FPRB dapat menjadi wadah komunikasi terkait dengan penanggulangan bencana di Kota Jogja.
“Intinya bagaimana nantinya upaya mitigasi semakin optimal, apalagi tantangan bencana semakin komplek,” terang Nur. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin