Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mi Basah Ketandan Eksis selama 75 Tahun, Telah Tersertifikasi Halal dan Izin Usaha, Tahun Baru Imlek Tidak Berpengaruh Signifikan

Agung Dwi Prakoso • Rabu, 29 Januari 2025 | 03:27 WIB

 

 

LEGEND: Pekerja sedang melakukan proses produksi mi basah di Ketandan, Jogja kemarin (28/1). Tahun Baru Imlek ini tidak berpengaruh signifikan terhadap penjualan.
LEGEND: Pekerja sedang melakukan proses produksi mi basah di Ketandan, Jogja kemarin (28/1). Tahun Baru Imlek ini tidak berpengaruh signifikan terhadap penjualan.

 

 

 

JOGJA - Momentum libur panjang Isra Mikraj dan Imlek berpengaruh pada penjualan mi basah yang di produksi oleh pabrik mi basah Ketandan, Jogja. Jika di hari biasa tempat tersebut hanya memproduksi 8 kwintal, saat libur panjang mampu menembus hingga 1,2 ton. "Kami memproduksi sejak 1950. Zaman masih simbah saya," ujar pemilik pabrik mi basah Ketandan, Asep Kamil kepada Radar Jogja, Selasa (28/1).

Ia merupakan penerus ketiga usaha tersebut. Sejak 1950 tempat produksi tidak berpindah. Bahkan namanya juga sama yakni pabrik mie basah Ketandan."Dulu terkenale malah mie kelingan, karena di daerah sini banyak pengrajin perhiasan emas (keling)," tuturnya.

pemilik pabrik mi basah Ketandan Asep Kamil
pemilik pabrik mi basah Ketandan Asep Kamil

Setelah orang tuanya meninggal 1992, dia pun menggantikan peran untuk mengelola pabrik tersebut. Namun ia mengaku sejak remaja sudah sering membantu orang tua untuk mengelola usaha keluarga itu."Kalau hari biasa (produksinya) 8 kwintal mi jadi, kalau weekend kadang bisa sampai 1,2 ton," bebernya.

Di pabrik tersebut mi dijual per kilogram dengan harga kisaran Rp 15 ribu. Harga tersebut berbeda lagi bagi para penjual mi yang kulakan. Jadi harga pengecer dengan tengkulak berbeda, tergantung jumlah pengambilan banyak atau sedikit."Dari harga sekilo masih Rp 300 dulu," jelasnya.

Harga tersebut tergantung pada harga kenaikan bahan pokok yakni tepung terigu. Tahun 1992 harga tepung terugu masih Rp 18 ribu untuk satu karung berisi 22,5 kilogram. Namun saat ini harganya sudah Rp 200 ribu per karung isi 25 kilogram.Selain terigu, ia juga menggunakan tepung tapioka bukan untuk campuran melainkan agar adonan mi tidak lengket. Terdapat dua macam mi yang diproduksi pabrik tersebut."Teksturnya dua macam pipih dan bulat, macamnya juga dua mi telor dan biasa," ujarnya.

Kebanyakan pembeli di pabrik tersebut berasal dari daerah sekitar. Beberapa dari luar daerah juga hanya mampir saat liburan. Kebanyakan pembeli akan mengolah mi untuk dijual lagi dalam bentuk olahan bakmi Jawa."Imlek ini tidak begitu pengaruh, paling pesanan restoran masakan Chinese hanya itu tambahannya," tuturnya.

Ia memastikan produk mi di pabriknya tidak menggunakan bahan pengawet ataupun perwarna sintetis. Hal itu terbukti dengan masa awet mi yang hanya bertahan selama 24 jam."Kalau di frezzer itu bisa sampai tiga hari," terangnya.

Selain itu di pabrik tersebut juga telah mendapatkan sertifikat izin usaha dan halal. Total di pabrik tersebut terdapat delapan pegawai yang membantu memproduksi mi. (oso/din)

 

 

Editor : Din Miftahudin
#Sejak 1950 #tahun baru imlek #legend #keling #Imlek #mi basah #ketandan #Eksis