Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sewa Kamar Hotel di DIY saat Libur Panjang di Aplikasi Online Ada yang Ditawarkan Rp 74 Juta Per Malam

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 28 Januari 2025 | 15:05 WIB

 

SOSOK : Ketua DPD PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono ditemui di Hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta, Selasa (13/9). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SOSOK : Ketua DPD PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono ditemui di Hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta, Selasa (13/9). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

 

JOGJA - Kenaikan harga sewa hotel di DIJ saat libur panjang Isra Mikraj dan Imlek relatif tinggi. Khusus anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ, diatur maksimal kenaikan 70 persen dari publis rate.

"Bisa saja sampai (belasan juta) kenaikannya dari publis rate itu, maksimal 70 persen kayak libur Nataru kemarin," ungkap Ketua PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono saat dikonfirmasi Senin (27/1).

Itu merupakan kesepakatan oleh para anggota PHRI sebelum momen libur panjang. Menurut Deddy, anggotanya bahkan banyak yang menerapkan harga tidak sampai 70 persen, namun hanya 40-50 persen saja.

"Ada juga yang 70 persen. Saya tidak memungkiri ada, tapi itu masih sesuai dengan kesepakatan, terutama untuk bintang 4 dan 5,"  tuturnya.

Harga properti paling tinggi yakni hotel bintang lima. Bahkan beberapa di antaranya bisa mencapai belasan juta. Mulai Rp 10 juta-Rp 17 juta untuk satu kamarnya.

Kebanyakan para pemesan properti ini dari kalangan artis, para pengusaha hingga pejabat. "Apalagi yang presiden suit, ada yang sampai Rp 17 juta. Kemarin juga habis kamarnya," bebernya. 

Radar Jogja melakukan pengecekan harga properti di beberapa hotel bintang di Jogja melalui aplikasi pemesanan online. Harga yang didapatkan bervariasi. Ada yang Rp 15 juta, bahkan ada yang Rp 74 juta per kamar dalam sehari.

"Rp 74 juta itu kayanya gak mungkin (kalau kamar). Mungkin bisa villa eksklusif yang terdapat lebih dari tiga kamar," jelas Deddy.

Namun ia juga menegaskan untuk kembali melakukan pengecekan apabila mendapati harga properti hotel yang tidak masuk akal. Ia tidak memungkiri kemungkinan-kemungkinan terjadi kesalahan atau sistem pemesanan di aplikasi online. "Kalau villa Rp 70 juta ya wajar, karena bisa dimuati 10-14 orang,"  katanya.

Salah satu kawasan di Kota Jogja yang banyak berdiri perhotelan dan penginapan.
Salah satu kawasan di Kota Jogja yang banyak berdiri perhotelan dan penginapan.

Untuk kesepakatan kenaikan harga, anggota PHRI DIJ sepakat tidak menerapkan aji mumpung. Mereka wajib patuh pada kesepakatan kenaikan maksimal 70 persen. Bahkan apabila mendapati anggota yang melanggar, akan dikenai surat peringatan (SP) 1,2 dan 3 hingga terakhir dikeluarkan dari keanggotaan.

"Kalau mahal itu yang di bintang berapa, saya lihat itu di bintang 4-5 ada yang naik 70 persen, tapi jatuhnya hanya Rp 700 ribu. Ada Rp 400 ribu, tinggal dari fasilitas hotelnya," tutur Deddy. 

 Soal okupansi saat long weekend ini, Deddy mengakui hotel-hotel di Jogja kebanjiran wisatawan. Okupansi hotel saat libur panjang ini bahkan mampu melebihi target. "Luar biasa (okupansi), di luar prediksi kami, ini mencapai 98,7 persen," ujarnya. 

Tak hanya di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman yang okupansi hotelnya tinggi. Pada momen libur panjang 25-29 Januari ini, rata-rata hotel di Kulon Progo, Bantul hingga Gunungkidul hampir 100 persen terisi.

"Kalau di Kota Jogja penuh, mereka kami arahkan ke sana ya, wisatawan mau. (Capaian) ini rekor selama saya memimpin PHRI DIJ," tuturnya.

Menurutnya, libur Isra Mikraj dan Imlek yang berdekatan menjadi salah satu faktor tingginya kunjungan wisatawan. Otomatis waktu libur lebih panjang dan secara tidak langsung mempengaruhi okupansi hotel. "Saat Nataru (wisatawan) yang belum ke Jogja, sekarang ke sini lagi," ungkapnya.

Selain itu, kebetulan libur panjang ini juga jatuh tepat sebelum bulan Ramadan. Menurut analisa PHRI DIJ, banyak wisatawan yang memanfaatkan bulan ini untuk liburan sebelum puasa pada Maret.

"Wisatawan kami arahkan di luar kota malah berterimakasih. Hotel bintang di Kulon Progo membeludak. Kasih yang nonbintang yang anggota PHRI tetap mau, Gunungkidul dan Bantul juga mau," jelasnya.

Menurutnya, masih banyak wisatawan yang percaya diri dan langsung pergi ke Jogja tanpa melakukan reservasi di penginapan terlebih dahulu. Alhasil banyak yang kebingungan dan muter-muter mencari penginapan karena banyak yang penuh.

"Kasus kemarin ya akhirnya dia muter-muter cari hotel sendiri tanpa konfirmasi kami. Padahal kami sudah buka online untuk reservasi. Reservasi dulu itu akan lebih enak," tambahnya.

Sebelumnya PHRI DIJ hanya menargetkan okupansi hotel massa libur panjang ini sebesar 90 persen. Bahkan mereka sempat pesimistis bisa mendekati okupansi saat libur Nataru yakni 97,23 persen. (oso/laz)

 
Editor : Heru Pratomo
#sewa hotel #Isra Mikraj #aplikasi #Hotel #bintang #Imlek #harga #Online #Deddy Pranowo Eryono #phri