Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lahan Penuh, Satu Lubang Makam untuk Tiga Jenazah yang Masih Keluarga di Kota Jogja

Gregorius Bramantyo • Senin, 27 Januari 2025 | 15:20 WIB

 

 

Keterbatasan lahan membuat masyarakat Jogja mengeluhkan lokasi pemakaman. Makam tumpuk  disebut menjadi solusi untuk masalah ini
Keterbatasan lahan membuat masyarakat Jogja mengeluhkan lokasi pemakaman. Makam tumpuk disebut menjadi solusi untuk masalah ini

JOGJA - Keterbatasan lahan menjadi persoalan yang krusial di Kota Jogja. Hal ini membuat lahan pemakaman yang ada juga terbatas. Empat pemakaman milik Pemkot Jogja yang berkapasitas ribuan sudah penuh. Yakni TPU Sarilaya, TPU Sasanalaya, TPU Utaralaya, dan TPU Pracimalaya.

Juru Kunci TPU Sasanalaya Muryani mengatakan, TPU Sasanalaya memiliki sembilan blok makam yang dibangun di atas tanah yang dulunya sultanaat grond (SG)dan kini dikelola Dinas Pekerjaan Umum Kota Jogja. Luasnya 12.727 meter persegi. "Makam di sini berasal dari berbagai agama, termasuk keutamaan Belanda yang sudah ada sejak lama dan masih beberapa kali dikunjungi," ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (20/1/2025).

Muryani menjelaskan, makam pertama di TPU yang berada di Kelurahan Keparakan ini dimakamkan pada tahun 1840. Hingga kini, jumlah makam di TPU itu sudah mencapai sekitar 8.000, termasuk makam yang ditumpuk. Meskipun terlihat ada petak lahan kosong, semua sudah dipesan dengan bukti surat resmi. "Sudah nggak ada lagi (petak lahan) yang kosong," jelasnya.

Dia menyebut, makam yang ditumpuk di TPU Sasanalaya cukup banyak. Bahkan ada yang mencapai tiga jenazah dalam satu lubang. Asalkan mereka berasal dari satu keluarga. Proses pemakaman yang dilakukan pun beragam, termasuk bedah bumi bagi jenazah yang telah lama dimakamkan.

Biaya bedah bumi untuk jenazah dalam kondisi pocong sekitar Rp 3 juta-Rp 3,5 juta. Sementara untuk peti jenazah standar biaya mencapai Rp 5 juta karena prosesnya lebih rumit. Lubang untuk peti lebih besar, lebarnya sekitar 80-90 cm dan 2,15 meter untuk panjangnya. Sementara untuk pocong lebih kecil dengan 70 cm lebar dan 2 meter panjangnya.

Muryani mengatakan, warga sekitar TPU Sasanalaya  yang ingin melakukan bedah bumi akan mendapatkan potongan harga sebesar Rp 500 ribu. Khususnya untuk warga yang tinggal satu RW dengan pemakaman.

Meskipun TPU Sasanalaya telah penuh, Muryani mengatakan, jika benar-benar kepepet, ada beberapa sudut lahan yang bisa digunakan. Namun hanya untuk makam tumpuk dalam kondisi pocong.

"Dipepetin dengan makam lama yang puluhan tahun nggak ditengok. Selama saya jadi juru kunci gak pernah ada pihak yang marah karena ada kuburan yang kesenggol,” katanya.

Dia menjelaskan, proses mengelola makam tumpuk lebih sulit karena harus membongkarkan kijing atau makam yang sudah ada. Biaya untuk membongkar kijing tetap sama, sekitar Rp 3,5juta-Rp 5 juta.

 

Di TPU Sasanalaya, beberapa tokoh besar yang dimakamkan, di antaranya, Arie Frederik Lasut, RJ Katamsi, Daldjono, dan Kassian Cephas.

Sementara itu, salah satu pengurus di TPU Pracimalaya Nugroho mengatakan, TPU Pracimalaya juga menghadapi keterbatasan lahan yang semakin mendesak. Berdiri di atas lahan seluas sekitar 13.200 meter persegi di Kemantren Wirobrajan, TPU yang memiliki 10 blok makam ini telah terisi hampir penuh. Sejak kali pertama digunakan pada tahun 1980-an, TPU ini kini telah menampung sekitar 10.000 makam. “Sudah termasuk sama makam yang ditumpuk. Ada ribuan yang sudah ditumpuk,” katanya.

Menurut Nugroho, saat ini sudah tidak ada lagi petak lahan yang kosong di TPU Pracimalaya. Makam tumpuk yang menjadi salah satu solusi atas keterbatasan lahan cukup banyak ditemukan di TPU ini. Beberapa keluarga, kata Nugroho, memilih untuk menumpuk dua sampai tiga jenazah dalam satu lubang makam. “Asalkan masih sedulure,” ujarnya.

Dalam hal biaya bedah bumi, Nugroho menjelaskan, harga untuk membuka makam jenazah dalam keadaan pocong sekitar Rp 3 juta. Sementara untuk jenazah dalam peti biayanya bisa mencapai Rp 5 juta, mengingat proses pembukaan makam peti yang membutuhkan lubang lebih besar.

Meskipun TPU Pracimalaya telah hampir penuh, Nugroho mengatakan, masih ada beberapa sudut lahan yang bisa digunakan untuk makam tumpuk dan dalam kondisi pocong. Namun untuk peti jenazah sudah tidak bisa lagi menambah tempat. “Kalau yang benar-benar kosong memang sudah nggak ada. Di sini sudah dipesan semua petaknya,” ucapnya.

Mengenai proses pembongkaran makam yang ditumpuk, Nugroho menyebut, biaya untuk membuka kijing antara Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta, tergantung pada kondisi makam itu. “Kalau kijingnya dari marmer begitu, ya lebih sulit membongkarnya,” ungkapnya. (tyo/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#TPU #TPU Utaralaya #Dinas Pekerjaan Umum #lahan pemakaman #Kota Jogja #jenazah #makam tumpuk #pemakaman #TPU Sasanalaya #makam #lahan #keterbatasan lahan #TPU Sarilaya #terbatas #TPU Pracimalaya #sultanaat grond #kijing #juru kunci #solusi