KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo menanggapi maraknya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak dengan penutupan pasar hewan. Hal ini menindaklanjuti instruksi gubernur DIJ tentang peningkatan kewaspadaan dini terhadap PMK.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Drajat Purbadi menyampaikan, penutupan merupakan tindak lanjut dari instruksi gubernur. Dalam hal ini, Dispertapa memutuskan melakukan penutupan Pasar Hewan Terpadu Pengasih.
Dengan penutupan pasar hewan ini, harapannya dapat mencegah persebaran PMK, terutama dari sapi yang diperdagangkan. "Penutupan selama 14 hari, dari 25 Januari hingga 7 Februari," ucap Drajat, Jumat (24/1).
Ia menyampaikan, penutupan dilakukan untuk meniadakan arus jual beli hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Pasalnya, PMK menyerang hewan ternak itu, terutama yang diperdagangkan dari wilayah Jawa Timur.
Upaya sosialisasi penutupan pasar telah ditempuh Dispertapa Kulon Progo. Diantaranya dengan memasang spanduk, menyebar informasi melalui pengeras suara di pasar, dan melalui pesan berantai ke pedagang. Harapannya, pedagang dan pembeli dapat mematuhi kebijakan penutupan itu.
Selama penutupan, Dispertapa akan fokus pada perawatan pasar hewan terpadu. Perawatan berupa pembersihan area dagang hewan. Penyemprotan disinfektan akan dilakukan secara terus menerus oleh petugas selama penutupan.
Tujuannya, saat pasar aktif kembali dapat digunakan dalam kondisi bersih dan bebas dari potensi penyebaran PMK. "Kasusnya memang naik, 29 sapi dua di antaranya telah sembuh dari PMK," ucapnya.
Maraknya kasus PMK di Kulon Progo memang tak semasif di kabupaten lain. Namun dengan kondisi sekarang penutupan pasar hewan dinilai efktif. Selain penutupan, Dispertapa terus menggenjot angka serapan vaksinasi.
Setiap harinya, puskeswan ditarget distribusi vaksin PMK. Petugas harus mampu memberikan vaksin ke sapi 25 ekor per hari. Berkat itu, hingga akhir Januari 1.050 sapi telah mendapatkan vaksin. "Target total 30 ribu dosis, khusus Januari ditingkatkan menjadi dua ribu dosis," ucapnya.
Sebelumnya, Dispertapa telah menerima seribu dosis vaksin. Tak lama dari itu, vaksin segera habis dan pihaknya telah mengusulkan pengajuan vaksin kembali. Tentunya pengajuan harus disesuaikan dengan hasil evaluasi dari pemprov.
Sementara itu, pedagang pasar hewan Sarjiyo tak mempermasalahkan penutupan. Lantaran kondisi PMK memang merugikan mereka. Daripada tetap berjualan dengan harga rendah, lebih baik ditutup keseluruhan agar kondusif. "Tidak masalah, yang penting segera mereda karena berdampak ke penjualan," ucapnya.
Sebagai peternak dan pedagang sapi, ia mensiasati penutupan dengan cara lain. Sarjiyo tetap berjualan sapi di rumahnya dengan syarat kepastian kesehatan hewan ternak. (gas/laz)
Editor : Din Miftahudin