JOGJA - Jumlah penderita gangguan jiwa di Kota Jogja tergolong banyak.
Bahkan jumlahnya mencapai ribuan.
Serta banyak di antaranya yang merupakan penderita gangguan jiwa kategori berat.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Iva Kusdyarini mengatakan, hingga tahun 2024 total penderita gangguan jiwa mencapai 3.433 orang.
Dari jumlah itu 1.096 di antaranya merupakan penderita gangguan jiwa berat.
Sementara 2.337 orang sisanya merupakan penderita gangguan jiwa ringan.
“Meliputi gangguan cemas, depresi dan campuran,” ujar Iva saat dikonfirmasi, Senin (20/1/2025).
Jika dibandingkan dengan tahun 2023 lalu, penderita gangguan jiwa di Jogja mengalami kenaikan sangat signifikan.
Sebab, berdasar data Dinkes Kota Jogja pada tahun 2023 jumlah penderita gangguan jiwa mencapai 1.239 orang.
Menurut Iva, banyak faktor yang membuat masyarakat bisa terkena gangguan jiwa.
Misalnya karena mengalami kekerasan, hubungan sosial, dan permasalahan dalam keluarga seperti broken home.
Selain itu, kondisi ekonomi dan pekerjaan juga dapat menjadi faktor penyebab bagi orang dewasa.
Baca Juga: Bus Listrik Jogja: Transportasi Ramah Lingkungan atau Tantangan Baru?
Guna mencegah gangguan jiwa sejak dini, Pemkot Jogja memiliki program pembentukan sekolah sehat jiwa.
Hingga tahun ini, total sudah ada delapan sekolah yang menjadi sasaran program tersebut.
Di antaranya SMPN 3 Kota Jogja, SMPN 7 Kota Jogja, SMP Bopkri 3 Kota Jogja, SMP Taman Dewasa Jetis, SMPN 5 Kota Jogja, SMPN 16 Kota Jogja, SMP Muhammadiyah 2 Kota Jogja dan SMP IT Masjid Syuhada Kota Jogja.
Wujud kegiatan sekolah sehat jiwa tersebut, yakni pihak sekolah bersedia dan mampu melaksanakan upaya kesehatan jiwa di sekolah.
Untuk tiap tahun ditarget empat sekolah di Kota Jogja bisa terbentuk program.
Tujuannya, untuk mencegah permasalahan kesehatan jiwa di sekolah seperti bullying, pengaruh stres belajar dan hubungan antar teman.
Iva menjelaskan, dasar dari program itu melalui Peraturan Wali Kota (Perwal) 80/2024 tentang upaya kesehatan jiwa.
Salah satu amanatnya adalah harus ada tim yang melaksanakan kegiatan kesehatan jiwa masyarakat di tingkat kota sampai kemantren, kelurahan.
"Untuk di sektor pendidikan kami melaksanakan upaya kesehatan jiwa di sekolah melalui pembentukan sekolah sehat jiwa," terang Iva.
Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Hasyim menyampaikan, tahun ini akan ada pembentukan empat sekolah sehat jiwa.
Rencananya dilakukan di SMPN 1 Kota Jogja, SMPN 12 Kota Jogja, SMP Kanisius Gayam dan SMP IT Abu Bakar.
Menurut Hasyim, pemilihan empat sekolah itu karena ada beberapa pertimbangan.
Meliputi kondisi siswanya cukup beragam dari segi ekonomi dan tidak hanya dari penduduk kota.
Itu tidak lepas dari lokasi sekolah yang mewakili wilayah utara, selatan, timur dan barat.
"Di sekolah-sekolah itu muridnya juga banyak, sehingga kami pilih agar sasarannya lebih banyak,” beber Hasyim. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin