JOGJA - Perjuangan panjang para pedagang Teras Malioboro (TM) 2 dalam menuntut pengundian lapak yang transparan, mentok. Aksi demo kali ini berlangsung dramatis. Ratusan pedagang mendatangi Gedung DPRD Kota Jogja Selasa (14/1/2025) untuk menagih kejelasan di menit terakhir batas waktu pengundian.
Sekitar pukul 13.30 para pedagang TM 2 yang tergabung dalam Paguyuban Tri Dharma mengepung Gedung DPRD Kota Jogja. Kedatangan mereka bertepatan dengan selesainya rapat paripurna anggota dewan yang juga dihadiri beberapa pejabat Pemkot Jogja, di antaranya Pj Wali Kota Jogja Sugeng Purwanto.
Selanjutnya sekitar pukul 14.30, Sugeng Purwanto terlihat didampingi anggota dewan yang diwakili Krisnadi Setyawan dan beberapa lainnya. Mereka juga dikawal pihak keamanan keluar gedung menemui para pedagang. Sugeng pun mengawali pembicaraan dihadapan ratusan pedagang.
"Saya berharap hari ini cukup lah. Yang penting, bapak ibu segera tindak ke UPT Pelestarian Cagar Budaya. Ini masih ditunggu," ujarnya.
Sugeng juga menegaskan pada hari terakhir pengundian itu para pedagang diminta hadir secara personal. Petugas akan menunggu pengundian hingga pukul 18.00. "Nyuwun tulung ini personal ya. Pedagang dengan pemerintah langsung," tuturnya.
Beberapa pedagang saat itu sempat menyela dengan menanyakan kaitannya dengan proses pengundian yang tidak transparan. Mereka mengatakan mau mengikuti relokasi, namun hanya menuntut transparansi setiap tahapannya. "Undian itu dilakukan bertahap dan bergantian, bukan karena culas itu bukan," kata Sugeng.
Suasana yang tadinya hening seketika menjadi gaduh. Para pedagang serentak berteriak menyoraki pernyataan Pj Wali Kota Jogja itu. "Saya ndak akan diskusi lagi. Saat ini tidak ada pilah-pilih, sekarang yang terpenting bapak ibu ke sana. Kami tunggu sampai pukul 18.00," tegas Sugeng meneruskan pembicaraan.
Tak berselang lama, para pejabat pemkot pergi meninggalkan pedagang yang masih dalam suasana riuh. Tersisa satu anggota dewan yakni Krisnadi Setyawan dan beberapa petugas keamanan mencoba menghalangi para pedagang yang ingin masuk ke Gedung DPRD Kota Jogja.
Seketika tangis para pedagang pun pecah. Di tengah isak tangis dan sorak sorai bernada cibiran, Krisnadi yang masih bertahan mencoba menasehati para pedagang. "Secara pribadi, saya mendampingi bapak ibu sampai hari ini. Nanti seterusnya saya juga akan mendampingi," ujar anggota Komisi B DPRD Kota Jogja itu.
Poin yang terpenting, menurutnya, para pedagang bisa masuk ke Beskalan dan mendapatkan lapak. Menurutnya, perjuangan masih bisa dilakukan dari dalam. "Akan saya kawal, akan saya dampingi," tuturnya.
Di tengah situasi yang cukup memanas, Ketua Koperasi Tri Dharma Arif Usman berorasi menyemangati para anggotanya. Ia merasa perjuangan pedagang untuk menjadi satu di lokasi Beskalan telah mentok dan terhenti waktu itu.
"Tapi ingat kita harus satu komando. Apapun itu, walaupun terpisah di barat dan timur. Kita bongkar satu per satu kebusukan mereka," teriaknya.
Setelah situasi kondusif, Ketua Paguyuban Tri Dharma Supriyati sambil mengusap air mata mengoordinasi anggotanya untuk duduk melingkar di bangunan pendapa depan Gedung DPRD Kota Jogja. Mereka menggelar forum diskusi singkat untuk mencari solusi dan keputusan pada hari itu.
Menurut Upik, sapaan akrabnya, tangisan para pedagang bukan karena sebuah kegagalan. Melainkan menangisi kebijakan pemerintah yang tidak mengarah kepada kejujuran.
"Kami hidup di Jogja untuk menjadi manusia yang seusungguhnya. Membawa kebaikan kejujuran dan keadilan. Tapi seakan-akan itu semua di sini tidak diizinkan, ini yang saya tangisi," keluhnya.
Dalam forum itu, ia juga mengatakan perjuangan para pedagang menuntut keadilan belum berakhir. Bahkan penyesalan terhadap sebuah perjuangan tidak pernah terlintas di benaknya.
"Perjuangan kita masih panjang. Kita adalah orang terpilih yang mempunyai komitmen dalam membawa kebenaran, keadilan dan kejujuran," tegasnya.
Ia menilai pernyataan dari Pemkot Jogja tidak menunjukkan kebijaksanaan. Namun mereka optimistis tidak menyerah. Cita-cita transparansi dan keadilan akan tetap terus diperjuangkan.
"Sekarang kita bersama membuktikan bahwa ada kedzaliman oleh pemkot. Buka kebrobokan Pemkot Jogja," teriaknya.
Selanjutnya para pedagang diberi waktu untuk mengambil keputusan dan melakukan voting kaitannya dengan pengambilan undian lapak atau tetap bertahan. Terdapat dua pilihan yang disampaikan yakni bertahan dan menunggu undian yang benar-benar transparan atau mengambil undian sekarang secara bersama sama.
"Bagi yang setuju untuk menganbil undian hari ini berdiri. Bagi yang tetap bertahan silakan duduk," ujar seorang pedagang yang memimpin jalannya voting.
Sebagian besar pedagang yang hadir tampak berdiri. Artinya mereka bersepakat akan mengambil undian lapak kemarin. Mereka akan bersama-sama mengikuti undian lapak selepas dari gedung DPRD Kota Jogja. "Satu ambil, semua harus ambil walaupun dengan berat hati," tuturnya. (oso/laz)