JOGJA - Angka prevalensi kasus anemia di kalangan remaja putri dan stunting Kota Jogja mulai mengalami penurunan.
Bahkan mulai menjauhi ambang batas yang ditentukan pemerintah.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Jogja Iswari Paramita mengatakan, sepanjang tahun 2024 angka prevalensi anemia remaja putri Kota Jogja mencapai 25,67 persen.
Angka itu, turun jika dibandingkan tahun 2023 lalu yang menyentuh 29,50 persen.
Capaian tersebut tentu cukup menggembirakan.
Sebab, lambat laun prevalensi anemia di kalangan remaja putri mengalami penurunan.
Serta angkanya terus menjauh dari ambang batas yang sudah ditentukan sebesar 30 persen.
Paramita menyampaikan, dapat menurunnya prevalensi anemia itu berkat adanya program konsumsi tablet tambah darah.
Program tersebut menyasar kalangan remaja putri dengan pelaksanaan di sekolah-sekolah.
“Kasus anemia pada remaja putri berhasil ditekan melalui konsumsi tablet tambah darah,” ujarnya, Senin (13/1/2025).
Paramita menyebut, menurunnya angka prevalensi anemia juga mendukung pencegahan dini risiko stunting.
Sebab para remaja putri nantinya juga akan mengandung dan memiliki anak.
Oleh karena itu, pihaknya berencana memperkuat peran peer konselor atau teman sebaya dari kalangan remaja.
Program itu bersifat jangka panjang dengan menggandeng OSIS di sekolah-sekolah dan instansi seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).
“Harapannya remaja menjadi pelopor untuk menggerakkan kebiasaan baik, seperti konsumsi tablet tambah darah," terang Paramita.
Perihal angka prevalensi stunting di Kota Jogja juga terus menunjukkan tren penurunan.
Pada tahun 2023, angka prevalensi stunting tercatat 11,76 persen.
Kemudian berhasil turun menjadi 11,27 persen pada 2024.
Paramita menyatakan, penurunan itu menunjukkan adanya dampak kemajuan dari program-program pencegahan stunting.
Baca Juga: PSS Sleman Dikabarkan Siap Gunakan MagIS, Ini Reaksi Gusti Randa
Sekaligus menjadi bukti bahwa pendekatan yang dilakukan sudah berada di jalur yang tepat.
Adapun program pencegahan stunting di Kota Jogja tidak hanya menyasar balita.
Namun juga remaja putri sebagai langkah pencegahan dini, serta ibu hamil melalui pemantauan pertumbuhan anak sejak masa kehamilan.
“Langkah ini dipadukan dengan edukasi tentang ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan sinergi lintas sektor,” ungkap Paramita.
Baca Juga: Bawa Nuansa Alam ke Dalam Hunian, 5 Tanaman Bonsai Bisa Jadi Pilihan Tanaman Hias Mempercantik Rumah
Sebelumnya, Penyuluh Keluarga Berencana (KB) Kemantren Gedongtengen, Widyastuti mengungkap, penurunan angka stunting perlu dukungan dari orang tua dan keluarga.
Sebab, masih banyak orang tua yang belum sadar pentingnya pemenuhan gizi pada anak dan ketepatan dalam pola asuh.
“Harapannya keluarga ikut memperhatikan untuk memberikan gizi seimbang pada anak mereka,” kata Widyastuti. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin