JOGJA- Sejumlah jalan provinsi bukan hanya dikeluhkan berlubang. Namun bila malam hari juga gelap. Ini lantaran minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU). Kebutuhan lampu PJU di ruas jalan provinsi sedikitnya mencapai 12 ribu. Selama ini Pemprov DIY hanya mampu mengalokasikan pengadaan lampu PJU dalam jumlah yang relatif kecil. Jauh dari kebutuhan.
"Per tahun kalau tak salah antara 90-100 lampu PJU. Kapasitas fiskal kami terbatas. Banyak hal yang dipertimbangkan," ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti Kamis (9/1/2025).
Menyadari besarnya kebutuhan lampu PJU, Ni Made menegaskan, secara perlahan kebutuhan tersebut dipenuhi. Diakui, alokasi anggaran pengadaan lampu PJU tahun ini tak ada di APBD 2025 DIY. Upaya pemenuhan dilakukan melalui dana keistimewaan (danais). Lampu PJU yang dibiayai danais tidak semua bisa dipasang di ruas jalan provinsi.
Hanya jalan provinsi yang berada di 18 satuan ruang strategis (SRS) keistimewaan yang bisa dilengkapi lampu PJU. Misalnya, Jalan Imogiri timur maupun jalan menuju makam raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul.
Mantan kepala Dinas Perhubungan DIY ini mengingatkan, secara kemanfaatan demi pembangunan antara danais dan APBD merupakan satu kesatuan. Dengan pertimbangan itu, tahun ini pengadaan lampu PJU hanya dianggarkan melalui danais agar tidak dobel anggaran. "Ngono kuwi (begitu, Red), aja (jangan, Red) sampai bilang tidak dianggarkan," ujar alumnus Fakultas Teknik UNS Surakarta ini.
Dari penjelasan Ni Made itu, kebutuhan 12 ribu dengan kemampuan pemprov melakukan pengadaan sebanyak 100 lampu PJU per tahunnya, maka jalan provinsi yang selama ini gelap bakal terang 120 tahun mendatang. Atau 1 abad lebih dari 20 tahun. Ini dengan penghitungan 12 ribu dibagi 100 ketemu angka 120.
Terpisah Kepala Bidang Pengembangan Prasarana Transportasi Dinas Perhubungan DIY Didit Suranto mengatakan, tahun ini mengusulkan pengadaan 300 lampu PJU. Namun belum semuanya disetujui. Usulan diajukan melalui danais. Lokasinya ada di 100 titik SRS keistimewaan di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo dan Sleman. “Kota Jogja tidak ada,” katanya.
Diakui, karena relatif terbatas, lampu PJU ditempatkan di lokasi rawan kecelakaan terutama di tikungan atau depan sekolah yang akses masyarakatnya tinggi. Dari kebutuhan 12 ribu sampai sekarang yang terpasang baru 300 lampu PJU.
Bahkan selama lima tahun terakhir, sejak pandemi Covid-19 pada TA 2021 berlanjut 2022, 2023, 2024, dan TA 2024, tak lagi ada anggaran pengadaan lampu PJU di APBD DIY.
Minimnya fasilitas lampu PJU juga dikeluhkan Panewu Dlingo, Bantul Marjihidayat. Ruas jalan menuju sejumlah destinasi wisata di Dlingo, sangat gelap pada malam hari. Khusus ruas jalan provinsi berada di jalur Imogiri-Dodogan. Beberapa kali usulan diajukan, tapi hingga 2025 ini belum ada tanda-tanda bisa direalisasikan.
Curhat juga pernah ditulis di rubrik Urun Rembuk Radar Jogja beberapa waktu lalu. Paryanto, warga Wukirsari, Imogiri, Bantul, mengeluhkan, suasana gelap di jalan menuju Jembatan Selopamioro, Imogiri Bantul. “Keadaan jalan gelap rawan kecelakaan dan kejahatan,” cerita Paryanto.
Lantaran jalan provinsi, dia minta pemprov cawe-cawe mengatasi keadaan itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. “Ora nganggo suwe,” pintanya. (oso/rul/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita