Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pedagang Kantin Sekolah di Kota Jogja Khawatir Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Mengurangi Penjualan dan Keuntungan

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 9 Januari 2025 | 00:08 WIB
Suasana Kantin SD Negeri Lempuyangwangi, Danurejan, Kota Jogja, Rabu (8/1/2025).  (AGUNG DWI PRAKOSO / RADAR JOGJA)
Suasana Kantin SD Negeri Lempuyangwangi, Danurejan, Kota Jogja, Rabu (8/1/2025). (AGUNG DWI PRAKOSO / RADAR JOGJA)

JOGJA - Program Makan Begizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto belum berlangsung di DIY. Namun, program tersebut membuat para penjual di kantin sekolah khawatir atas potensi berkurangnya penjualan dagangannya. 

 "Sebenarnya kekhawatiran ada, pasti akan berdampak ke kami," ujar pedagang kantin di SD Negeri Lempuyangwangi, Danurejan, Kota Jogja, Desi, Rabu (8/1/2025). 

Di kantin tersebut, terdapat enam orang penjual yang menyediakan berbagai makanan bagi para siswa. Tidak saling berkompetisi, enam orang tersebut malah bekerjasama untuk saling melengkapi menyediakan makanan agar lebih bervariasi. Sebagai tulang punggung keluarga, Desi berharap jika program tersebut telah bergulir, pemerintah juga harus memikirkan para penjual di kantin-kantin sekolah. 

"Misal pemberian makan, jamnya diatur agar kami tetep bisa dapat penghasilan untuk keluarga kami," tuturnya. 

Pendapatan yang mereka dapatkan mayoritas untuk membiayai kehidupan keluarga dan sekolah anak-anak mereka. Mereka menjual mulai dari nasi, minum hingga jajanan yang dikelolah bersama dengan enam orang lainnya. 

"Otomatis kalau ada program MBG, (penjualan) nasinya akhirnya terganggu juga," bebernya. 

Hal itu didasarkan pada kebiasaan para siswa yang seringkali tidak jajan apabila sudah makan. Para siswa memanfaatkan waktu istirahat sekolah untuk jajan di kantin. Waktu istirahat di sekolah tersebut dibagi menjadi dua yakni kelas 1, 2, dan 3 istirahat pada pukul 8.30 dan 9.15 WIB. Sedangkan kelas 4,5 dan 6 istirahat pada pukul 10.30 dan 11.30 WIB. 

"Biasanya sehari bisa terjual 100 porsi nasi, anak-anak selalu ngejar menu baru. Setiap hari harus pinter ngatur menu," jelasnya. 

Ia belum mendapatkan informasi program MBG melibatkan pengurus kantin di sekolah. Namun, kalau ada ajakan untuk mengelola program tersebut mereka siap. 

"Insyallah mau, biar dapur tetep ngebul," tandasnya. 

Baca Juga: Bikin SIM Baru Tak Perlu Datang ke Kantor Polisi, Begini Caranya!

Hal serupa juga disampaikan pedagang kantin di SMP Negeri 4 Kota Jogja, Pardi. Ia mengatakan hanya bisa pasrah dengan kebijakan pemerintah yang akan bergulir. Menurutnya program tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh pada penjualan, baik besar ataupun kecil. 

"Pasrah, pie meneh, kalau minuman mungkin masih (laku) tapi kalau makanan itu gatau," ujarnya. 

Ia menjajakan makanan mulai dari gorengan, nasi dan juga mie. Harga gorengan sendiri relatif murah, Rp 2 ribu untuk tiga buah gorengan. Sedangkan mie dan nasi rata-rata dihargai Rp 6 ribu satu porsi. Siswa mayoritas jajan di saat waktu istirahat yakni pukul 10.15 dan 11.50 WIB.

"Khawtir pasti ada, yang mata oencahariannya di kantin pasti pengaruh, tapi ya dicoba lah," jelasnya. (oso) 

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Mbg #program mbg #Makan Bergizi Gratis #Penjual kantin sekolah #kantin sekolah