JOGJA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada penurunan jumlah penduduk kelas menengah dalam lima tahun terakhir. Meski begitu, BPS DIY mengungkapkan bahwa saat ini mereka belum mencapai tahap pemetaan yang lebih mendalam mengenai penyebab turunnya kelas menengah, khususnya di wilayah DIY.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati menjelaskan, secara umum, konsumsi rumah tangga pada tahun 2024 menunjukkan sedikit penurunan. Perlambatan konsumsi ini, menurut Herum, bisa jadi disebabkan oleh turunnya harga hasil pertanian. Berdampak pada daya beli masyarakat yang tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.“Kami sekarang belum sampai pada tahap pemetaan kelas menengah di DIY,” ujarnya, Selasa (7/1/2024).
Namun di sisi positifnya, meskipun ada perusahaan yang mengurangi jumlah tenaga kerja, hal tersebut tidak selalu berujung pada peningkatan pengangguran. Banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan bisa saja mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain atau memulai usaha mereka sendiri.“Jadi meskipun ada pengurangan tenaga kerja, iklim kerja tetap kondusif,” kata Herum.
Berdasarkan catatan BPS, pada 2024, jumlah penduduk kelas menengah tercatat sebanyak 47,85 juta jiwa. Lebih rendah dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 57,33 juta jiwa. Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong dalam kategori aspirasi kelas menengah (aspiring middle class) diperkirakan mencapai 137,5 juta jiwa pada 2024. Naik dari 128,85 juta jiwa pada 2019.
Di sisi lain, BPS juga melaporkan bahwa inflasi Indonesia sepanjang tahun 2024 tercatat sebesar 1,57 persen secara tahunan (yoy), yang merupakan tingkat inflasi terendah dalam sejarah sejak BPS mulai menghitung inflasi.
Angka ini bahkan lebih rendah dari inflasi pada tahun 2020 yang tercatat sebesar 1,68 persen saat pandemi Covid-19 melanda. Herum menjelaskan, salah satu faktor utama rendahnya inflasi ini adalah turunnya harga pangan pokok. “Setelah sebelumnya mengalami lonjakan harga yang tinggi pada tahun 2022 dan 2023,” jelasnya. (tyo)
Editor : Din Miftahudin