Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Penduduk Kelas Menengah di DIY Jumlahnya Turun, BPS DIY Belum Petakan Penyebabnya

Gregorius Bramantyo • Rabu, 8 Januari 2025 | 16:25 WIB

 

 

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati

 

JOGJA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada penurunan jumlah penduduk kelas menengah dalam lima tahun terakhir. Meski begitu, BPS DIY mengungkapkan bahwa saat ini mereka belum mencapai tahap pemetaan yang lebih mendalam mengenai penyebab turunnya kelas menengah, khususnya di wilayah DIY.

 Baca Juga: Seto Nurdiyantara Tak Tahu Sampai Kapan Diistirahatkan, Manajemen PSIM Jogja Sebut demi Kebaikan Bersama

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati menjelaskan, secara umum, konsumsi rumah tangga pada tahun 2024 menunjukkan sedikit penurunan. Perlambatan konsumsi ini, menurut Herum, bisa jadi disebabkan oleh turunnya harga hasil pertanian. Berdampak pada daya beli masyarakat yang tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.“Kami sekarang belum sampai pada tahap pemetaan kelas menengah di DIY,” ujarnya, Selasa (7/1/2024).

 

Namun di sisi positifnya, meskipun ada perusahaan yang mengurangi jumlah tenaga kerja, hal tersebut tidak selalu berujung pada peningkatan pengangguran. Banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan bisa saja mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain atau memulai usaha mereka sendiri.“Jadi meskipun ada pengurangan tenaga kerja, iklim kerja tetap kondusif,” kata Herum.

 Baca Juga: Kanwil Kemenkum DIJ Gelar Pelatihan Paralegal, Fokuskan Perlindungan Hukum terhadap Korban Kekerasan Seksual

Berdasarkan catatan BPS, pada 2024, jumlah penduduk kelas menengah tercatat sebanyak 47,85 juta jiwa. Lebih rendah dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 57,33 juta jiwa. Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong dalam kategori aspirasi kelas menengah (aspiring middle class) diperkirakan mencapai 137,5 juta jiwa pada 2024. Naik dari 128,85 juta jiwa pada 2019.

 

Di sisi lain, BPS juga melaporkan bahwa inflasi Indonesia sepanjang tahun 2024 tercatat sebesar 1,57 persen secara tahunan (yoy), yang merupakan tingkat inflasi terendah dalam sejarah sejak BPS mulai menghitung inflasi.

 Baca Juga: Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Diperpanjang Hingga Februari, Curah Hujan Tinggi di DIY Diperkirakan Sampai Mei 2025

Angka ini bahkan lebih rendah dari inflasi pada tahun 2020 yang tercatat sebesar 1,68 persen saat pandemi Covid-19 melanda. Herum menjelaskan, salah satu faktor utama rendahnya inflasi ini adalah turunnya harga pangan pokok. “Setelah sebelumnya mengalami lonjakan harga yang tinggi pada tahun 2022 dan 2023,” jelasnya. (tyo)

Editor : Din Miftahudin
#BPS DIY #turun #konsumsi #rumah tangga #kelas menengah #Herum Fajarwati