JOGJA - Gigi emas, yang dulu menjadi simbol prestise dan status sosial, kini mulai jarang ditemui.
Fenomena ini sempat membawa kenangan masa lalu saat tradisi ini masih berjaya di masyarakat Jawa.
Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Achmad Uzair berbagi cerita tentang bertemu dengan jamaah dari Uzbekistan dan Tajikistan yang masih mempertahankan tradisi gigi emas.
"Mereka, terutama yang sepuh, tampak bangga dengan gigi emasnya. Ini mengingatkan saya pada tradisi yang dulu juga populer di Jawa," kata Achmad Uzair pada Jumat (27/12/2024).
Di era 70-an hingga 90-an, gigi emas di Jawa dianggap sebagai lambang kehormatan.
Tak jarang, seseorang rela menabung bertahun-tahun demi memasang gigi emas, baik untuk menutupi kekurangan estetik maupun sekadar menaikkan gengsi.
"Namun, trennya perlahan memudar seiring berkembangnya zaman," ujarnya.
Sekarang, gigi emas lebih sering digantikan oleh perawatan gigi modern seperti bleaching atau aligner.
"Dulu gigi emas itu prestise, sekarang gantinya gigi putih dan rapi," ungkapnya.
Meski begitu, fungsi praktis gigi emas masih diakui.
Materialnya yang tahan lama, tidak mudah korosi, dan mudah dibentuk menjadikannya pilihan ideal untuk perbaikan gigi.
"Namun, aspek sosialnya yang membuatnya ikonik, bukan hanya fungsinya," ucapnya.
Menurut dia, gigi emas kini lebih menjadi cerita masa lalu yang menarik untuk dikenang.
Terutama bagi generasi muda yang penasaran dengan budaya nenek moyang.
Transformasi tersebut menunjukkan bagaimana identitas sosial terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
“Kalau dulu gengsi pakai gigi emas, sekarang orang lebih bangga dengan senyum putih yang natural,” bebernya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin