JOGJA - Pemerintah kota (Pemkot) Jogja bakal mengoperasikan dua mesin insinerator pada tahun depan.
Dari hasil pengawasan yang dilakukan Komisi C DPRD Kota Jogja, legislatif menilai perlu ada penambahan jumlah petugas.
Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Bambang Seno Baskoro mengatakan, dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan pihaknya di insinerator Giwangan pada Selasa (17/12/2024) lalu ada beberapa catatan.
Salah satunya perihal masih kurangnya jumlah petugas atau sumber daya manusia (SDM) pengelola sampah.
Seno membeberkan, petugas untuk mengelola insinerator masih sangat minim.
Jumlahnya hanya lima orang per shift untuk mengelola 10 ton sampah. Sedangkan setiap harinya ada 30 ton sampah yang diolah dan dibagi dalam tiga shift.
Menurut dia, jumlah petugas untuk mengelola sampah dalam satu shift masih kurang. Sehingga dia merasa perlu ada penambahan petugas.
Di satu sisi, dia juga berharap agar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja harus memperhatikan dampak kesehatan bagi petugas yang bekerja di insinerator.
“Kami evaluasi perlu adanya terkait dengan penataan SDM, supaya lebih maksimal,” ujar Seno saat ditemui di ruangannya, Selasa (24/12/2024).
Seno mengapresiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja yang melibatkan masyarakat sekitar.
Termasuk sudah melakukan sosialisasi kepada warga yang tinggal di sekitar mesin insinerator perihal tidak adanya dampak lingkungan dari beroperasinya mesin pembakar sampah tersebut.
Dia berharap, pemkot bisa menjaga komitmen terkait hal itu.
Sebab, dampak sosial maupun kesehatan dari polusi serta lindi operasional mesin insinerator memamg harus diperhatikan.
Sehingga penolakan dari masyarakat pun bisa diantisipasi.
Politikus Partai Golkar itu yakin, dengan kehadiran mesin insinerator dapat menanggulangi permasalahan sampah yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat.
Terlebih, selain mesin insinerator pemkot juga memaksimalkan pengelolaan sampah dengan metode Refuse Derived Fuel (RDF).
Meksipun demikian, Seno memberi atensi terhadap pengelolaan depo-depo sampah nantinya.
Apabila tempat pengolahan sampah di Kota Jogja beroperasi maksimal, dia mendorong agar tumpukan sampah yang ada di depo harus diminimalisasi.
Sebagai informasi, Pemkot Jogja memiliki beberapa tempat pengelolaan sampah.
Dua di antaranya menggunakan insinerator di Sitimulyo, Piyungan, Bantul dan Giwangan.
Kemudian juga TPS3R Karangmiri, Kranon, dan Nitikan yang diolah menjadi RDF.
“Januari 2025 sudah bisa menangani sampah 230 ton, sementara produksi sampah di Kota Jogja kan 220 ton per hari."
"Menggunakan sistem RDF dan thermal dengan insinerator,” terang Seno.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan solusi terkait minimnya petugas insinerator.
Salah satunya dengan penambahan jumlah petugas.
Haryoko mengungkap, dalam penambahan jumlah petugas itu DLH Kota Jogja akan memperhitungkan kemampuan anggaran.
Bahkan juga sudah disiapkan kemungkinan untuk melibatkan petugas lain agar membantu pengoperasian insinerator.
“Kami perhitungkan dengan bagian lain yang nantinya bisa mensubsidi tenaga untuk insinerator."
"Karena kami optimalisasi tenaga yang ada dan meminimalisasi anggaran,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin