JOGJA - Budidaya ikan nila memiliki peluang ekonomi yang masih sangat terbuka. Perikanan budidaya memiliki pengaruh signifikan karena produksi perikanan DIY pada 2023 sebanyak 105.270 ton disumbang oleh produksi perikanan budidaya. Besarnya mencapai 97.771 ton atau 92,8 persen dan 7.499 ton atau 7,2 persen dari produksi perikanan tangkap.
“Produksi ikan nila merupakan komoditas unggulan setelah ikan lele yang penting bagi perekonomian DIY,” ujar Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Suwarto Selasa (10/12/2024).
Dikatakan, ikan lele menyumbang 49,3 persen atau 48.229 ton dari total produksi ikan di DIY sejumlah 97.771 ton. Disusul ikan nila sebesar 31.977 ton atau 32,7 persen. Besarnya produksi ikan nila membuat kebutuhan benih ikan nila juga besar. Data produksi benih ikan nila mencapai 852.110.000.
Meski demikian, Suwarto mengingatkan tantangan dalam pengembangan perikanan budidaya. Tantangan itu meliputi semakin terbatasnya ketersediaan lahan akibat alih fungsi lahan. Faktor kondisi iklim dan cuaca. Genetika induk ikan yang memerlukan regenerasi. Permodalan dalam pengembangan skala usaha. Juga kemampuan teknis budidaya ikan pada sumber daya manusia (SDM) pelaku utama.
Menyadari tantangan itu, salah satu sistem budidaya yang mampu menjawab semakin terbatasnya lahan yang tersedia sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya perikanan adalah sistem budidaya ikan nila dengan sentuhan teknologi kincir air. Disingkat Sibudidikucir.
Menurut Suwarto penerapan Sibudidikucir dalam budidaya ikan nila berpedoman pada penambahan oksigen dari kincir air serta pembentukan arus air. Ini memicu ikan nila aktif bergerak dengan ketercukupan oksigen di perairan.
Pemenuhan parameter oksigen dalam air tersebut mampu mendongkrak padat tebar nila dari car konvensional sebanyak 10-15 ekor/m2 menjadi 30-40 ekor/m2 serta produktivitas hasil panen meningkat dari 2 -3 kg/m2 meningkat menjadi 6 - 8 kg/m2.
Selama ini berbagai program kegiatan dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dalam rangka mendukung pengembangan perikanan budidaya ikan nila. Antara lain dengan meningkatkan kapasitas SDM dari pembudidaya ikan melalui berbagai pelatihan teknis budidaya Menyalurkan hibah sarana dan prasarana budidaya perikanan pada 2024 sebanyak 13 paket pembesaran ikan nila dengan nilai Rp 232 juta dan lima paket pembenihan ikan nila sebesar Rp 70 juta.
Merekrut pembudidaya ikan yang telah berhasil baik. Terutama dari segi pengelolaan air serta teknis budidaya menjadi penyuluh perikanan swadaya (PPS) agar mampu menjadi teladan dan pembimbing bagi kelompok-kelompok perikanan di DIY.
Sedangkan Ketua Kelompok Mina Taruna Garongan Susanto menilai, langkah yang perlu diambil dalam pengembangan perikanan budidaya agar dititikberatkan pada konsep pembangunan kawasan. Ini dalam rangka menciptakan multiplier effect di masyarakat.
“Inovasi sistem budidaya seperti sibudidikucir, minapadi, dan nila salin merupakan solusi menjawab tantangan ketersediaan lahan,” kata ketua Kelompok Mina Taruna yang beralamat di Dusun Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman. Itu, lanjut Susanto, sekaligus sebagai upaya peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan di masyarakat.
Mengutip Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 111 Tahun 2023 tentang Kampung Perikanan Budidaya, Kabupaten Sleman telah ditetapkan sebagai Kampung Perikanan Budidaya dengan komoditas ikan nila. Penetapan ini diharapkan sebagai langkah awal dalam pembangunan berkonsep kawasan guna pengembangan budidaya perikanan. (kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita