RADAR JOGJA - Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi utama bagi pertumbuhan ekonomi DIY. Di antaranya, memproduksi produk khas Jogja seperti batik. Industri batik harus dikembangkan agar lestari dan punya daya saing tinggi sebagai komoditas.
“DIY memiliki 1.750 industri kecil menengah (IKM) yang memproduksi batik dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Syam Arjayanti Selasa (3/11/2024).
Pengembangan batik di DIY juga memiliki torehan prestasi dengan ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council). Penetapan dilaksanakan dalam Perayaan 50 Tahun Dewan Kerajinan Dunia di Kota Donyang, Provinsi Zhejiang, Tiongkok 18-23 Oktober 2014.
Panduan melestarikan batik sebagai warisan budaya merujuk Perda DIY No. 13 Tahun 2019 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Batik Jogja. Selain itu, Keputusan Gubernur No. 21 Tahun 2015 tentang Produk Unggulan Daerah DIY. Batik tulis dan kerajinan batik ditetapkan sebagai produk unggulan daerah.
Pembinaan industri batik dilakukan melalui peningkatan produksi, pemasaran, dan penguatan kelembagaan. Instansinya, lanjut Syam, juga mengembangkan batik khas Jogja dengan dukungan dana keistimewaan melalui berbagai promosi.
Di antaranya, memecahkan rekor Muri Membatik sepanjang 3000 meter saat Hari Batik Nasional 2 Oktober 2014. Memakai bahan kain tenun ATBM ( bukan mesin, Red) membatik dalam waktu sejam. Kegiatan dibuka Wakil Gubernur DIY Paku Alam (PA) X bertujuan mempromosikan batik khas Jogja. “Banyaknya media yang meliput acara tersebut diharapkan brand batik Jogja dapat meningkat,” harapnya.
Selanjutnya, event Jogja International Batik Bienalle (JIBB). Penyelenggaraan festival batik sebagai upaya meningkatkan, menghidupkan, dan mempromosikan seni batik motif Yogyakarta. Sekaligus mengukuhkan eksistensi Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.
Berikutnya, Gebyar Indikasi Geografis Batik Tulis Nitik di Balai Kalurahan Trimulyo, Jetis, Bantul, pada November 2021 lalu. Peresmiannya dilakukan Gubernur DIY Hamengku Buwono X. Di luar itu juga diadakan pembangunan Monumen Jogja Kota Batik dan renovasi Prasasti Batik Titik Nol.
Pemberian hibah peralatan produksi kepada kelompok IKM batik dengan anggaran Rp 315 juta. Kemudian pembangunan workshop di sentra IKM Batik Giriloyo Imogiri dan Sentra IKM Batik Lendah Kulonprogo pada 2016 serta 2017.
Lalu, pembangunan IPAL Komunal di Kampung Batik Giriloyo, Imogiri, Bantul. Ini dalam rangka mengurangi dampak negatif industri batik terhadap lingkungan. Diadakan rehab dan operasional Griya Batik dan gelar potensi Kampung Batik Istimewa.
Dalam rangka peningkatan produksi diadakan pelatihan dengan peserta pelaku IKM batik. Juga diadakan fasilitasi sertifikasi HKI bagi IKM batik di DIY. Selain itu, instansi yang dikepalai Syam juga menggelar berbagai kegiatan seperti lomba desain batik, penyusunan buku profile IKM Batik, dan fasilitasi promosi pelaku industri batik khas Jogja.
Mengutip hasil monitoring dan evaluasi (monev), kegiatan yang dilakukan itu mampu mendorong perkembangan usaha pelaku IKM. Setelah mengikuti kegiatan promosi, peserta mengalami peningkatan penjualan rata-rata sebesar 40 perse pada tahun pertama.
Menanggapi berbagai program kegiatan itu, Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari memberikan apresiasi. Di tahun depan, dia ingin dinas mendorong peningkatan pemanfaatan teknologi produksi bagi pelaku industri batik khas Jogja. “Perlu juga diadakan pengembangan pelaku batik milenial dan pengembangan batik ramah lingkungan,” harapnya. Di samping itu, perlu membangun sistem informasi batik. (kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita