JOGJA - Bencana Hidrometeorologi masih mengintai warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat ratusan kejadian mulai dari rumah ambruk, pohon tumbang hingga tanah longsor yang terjadi dalam dua bulan terakhir."Kami telah menghimpun data kejadian dan dampak bencana Hidrometeorologi bulan Oktober-November 2024," ujar Kepala Pelaksana BPBD DIY Nkviar Rahmad, Senin (25/11).
Kejadian cuaca ekstrem bulan Oktober, Kota Jogja terdapat empat titik terdampak, Gunungkidul enam, Kulonprogo 13 dan terbanyak Sleman 65 titik. Kabupaten Sleman terjadi di Kapanewon Depok, Kalasan, Ngaglik dan Ngemplak. Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan beberapa kerusakan diantaranya Pohon tumbang sebanyak 33 kejadian, satu fasilitas pendidikan, lima tempat ibadah, dua tempat usaha, 10 akses jalan, 40 rumah rusak dan empat kendaraan tertimpa pohon. Terdapat korban jiwa di Sleman, yakni dua orang luka berat dan satu orang luka ringan karena tertimpa joglo tempat usaha yang roboh."Kerugian yang ditaksir di Sleman itu seluruhnya sekitar Rp 300 juta," ujarnya.
Selanjutnya pada periode Oktober, di Kulon Progo juga dilanda bencana Hidrometeorologi mulai dari cuaca ekstrem, tanah longsor hingga banjir. Tujuh kapanewon yang terdampak cuaca ekstrem diantaranya Kapanewon Panjatan, Kokap, Kalibawang, Nanggulan, Panjatan, Wates dan Lendah."Dampaknya yakni 11 Rumah Rusak, dua akses jalan, 10 pohon tumbang, satu jaringan listrik dan satu jaringan telepon. Kerugian ditaksir sekitar Rp 60 juta," tuturnya.
Bencana tanah longsor juga terjadi di Kapanewon Kokap dan Pengasih. Tanah longsor mengakibatkan akses Jalan tertutup dengan luas 10 meter dan tinggi 15 meter hingga mengancam rumah. Kerugian atas bencana tersebut ditaksir mencapat Rp 10 juta."Banjir juga terjadi di Pengasih menyebabkan empat rumah tergenang," bebernya.
Di Kota Jogja cuaca ekstrem terjadi di dua Kemantren yakni Umbulharjo dan Kotagede. Bencana tersebut berdampak pada dua akses jalan, dua jaringan internet, satu jaringan telepon, satu jaringan listrik, satu jaringan PJU dan satu rumah rusak."Untuk tanah longsor terjadi di Kemantren Jetis yakni ada talud yang retak," jelasnya.
Daerah Gunungkidul juga terdampak cuaca ekstrem khususnya di Kapanewon Semin dan Tanjungsari. Total lima rumah rusak, empat pohin tumbang dan mengenai satu kendaraan bus."Satu orang kru bus tersebut mengalami luka ringan," katanya.
Dampak bencana Hidrometeorologi bertambah luas pada November. BPBD DIY mencatat cuaca ekstrem terjadi di Kapanewon Cangkringan, Berbah, Kalasan, Moyudan, Pakem, Sleman, Minggir, Godean, Ngemplak, Turi, Mlati, Sayegan dan Gamping dalam satu bulan.
Beberapa aspek yang terdampak di antaranya pohon tumbang (296), bangunan roboh (3), joglo roboh (2), rumah rusak (145), fasilitas ibadah (2), fasilitas pendidikan (4), fasilitas umum (2), tempat usaha (15), jaringan listrik (30), akses jalan (70), kandang (6), tower internet (1), tiang listrik (1) dan kendaraan R4 (6). Tanah longsor juga terjadi di Kapanewon Gamping yang menyebabkan satu warung dan dua talud rusak."Dua orang luka sedang karena tertimpa bangunan roboh. Keseluruhan kejadian kerugian ditaksir mencapai Rp 320.500 juta," terangnya.
Di Kulon Progo cuaca ekstrem terjadi di Kapanewon Girimulyo, Kokap, Kalibawang, Wates, Pengasih, Nanggulan dan Galur. Di tujuh Kapanewon tersebut jika dikalkulasi terdapat 35 pohon tumbang, 35 rumah rusak, enam akses jalan, tujuh jaringan lostrik, satu fasilitas pendidikan, satu baliho, satu jaringan internet dan satu kandang ternak. BPBD DIY menaksir kerugian secara keseleruhan mencapai Rp 58.500 juta.
Selanjutnya di sana juga terjadi tanah longsor di tiga Kapanewon yakni Kokap, Kalibawan dan Samigaluh. Dampak tanah longsor menyebabkan beberapa kerusakan diantaranya 19 rumah, 23 akses halan. Satu jalan, lima talud, tiga drainase, satu tiang kistrik, dua fasikitas pendidikan, satu fasilitas ibadah, tiga kandang ternak dan dua pohon tumbang. Kerugian yang ditaksir Rp 19,3 Juta. "Di Kokap dan Wates juga mengalami banjir yang menyebabkan empat rumah tergenang dengan kerugian Rp 5 juta," tegasnya.
Cuaca ekstrem juga terjadi di Kota Jogja tepatnya di 11 Kemantren yakni Kemantren Danurejan, Gedongtengen, Gondokusuman, Gondomanan, Kraton, Mantrijeron, Ngampilan, Tegalrejo, Umbulharjo, Wirobrajan dan Jetis. Selama kurang dari satu bulan, bencana Hidrometeorologi berdampak pada 10 rumah rusak, enam akses jalan, satu jaringan internet, tiga jaringan telepon, satu jaringan listrik, satu jaringan PJU, tiga kendaraan rusak, 16 pohon tumbang dan satu tiang listrik."Tiga talud rusak di Tegalrejo dan satu akses jalan terganggu di Wirobrajan akibat tanah longsor," ujarnya.
Selanjutnya di Kabupaten Bantul, cuaca ekstrem terjadi di Kapanewon Sewon, Jetis, Bambanglipuro, Banguntapan, Bantul dan Pleret. Kejadian tersebut berdampak pada sembilan pohon tumbang, satu bangunan roboh, tuga runah rusak, delapan akses jalan tertutup, sembilan tempat usaha rusak, satu jaringan listrik dan kadang ternak rusak. Tanah lonsor juga terjadi di Kapanewon kasihan yang menehebabkan dua talud dan rumah rusak. Kerugian yang ditaksi mencapai Rp 129.200 juta."Bahkan memakan korban jiwa yakni satu orang meninggal dunia karena tertimpa bangunan roboh," tuturnya.
Di Kabupaten Gunungkidul, BPBD mencatat cuaca ekstrem juga menimpa di beberapa kapanewon di antaranya Playen, Wonosari, Rongkop, Ponjong, Nglipar dan Karangmojo. Total sebanyak 35 rumah rusak, dua kaes jalan terganggu, dua tempat usaha rusak, sattu jaringan lsitrik, kandang makam dan PJU juga rusak. Tak hanya itu, tanah longsor juga terjadi di Kapanewon Playen, Gedangsari, Patuk dan Panggang."Menyebabkan dua Akses jalan terganggu, tiga takud ambrol, satu rumah rudak dan dua drainase rusak. Total kerugian mencapai Rp 111.683 juta," bebernya.
Menaggapi banyaknya dampak bencana Hidrometeorologi, BPBD DIY melakukan asesment kajian cepat, pendataan, aksi penanganan atau evakuasi, memberikan dukungan penanganan dengan bantuan dan sebagainya. BPBD DIY juga aktif berkoordinasi dengan kelompok relawan serta lembaga lain."SK (Surat Keputusan) Gubernur terkait perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi juga sudah resmi terbit hari ini, Senin (25/11)," jelasnya. (oso)
Editor : Din Miftahudin