RADAR JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggandeng Forum Bank Sampah (FBS) dan perwakilan bank sampah di seluruh kota untuk memanfaatkan metode biopori sebagai solusi pengelolaan sampah organik, terutama di area dengan lahan terbatas.
Sebagai bentuk dukungan, Dana Keistimewaan (Danais) 2024 telah dimanfaatkan untuk edukasi dan implementasi biopori skala rumah tangga di 45 kelurahan.
Proyek ini dimulai pada Juli 2024 dan hingga kini telah mencatatkan pemasangan sebanyak 29.160 lubang biopori.
Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan proses pendataan yang masih berlangsung.
Pemanfaatan Biopori untuk Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
DLH Kota Yogyakarta mengajak penerima manfaat untuk memelihara dan memanfaatkan biopori secara optimal.
Biopori tidak hanya membantu mengelola sampah organik di lingkungan rumah, tetapi juga menjadi solusi praktis untuk wilayah perkotaan yang cenderung memiliki lahan terbatas.
Plt Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta Lusiningsih mengatakan, sosialisasi terus dikakukan kepada masyarakat, khususnya terkait FBS dan 689 unit bank sampah.
Edukasi mengenai manfaat dan cara pembuatan biopori diharapkan mampu mempercepat penerapan metode ini hingga ke tingkat rumah tangga.
Peran Penting Bank Sampah dalam Pemanfaatan Biopori
Ketua Sampah Gempita Kelurahan Suryatmajan Lucy Okyta Purba menyambut baik tambahan biopori yang disediakan pemerintah melalui Danais 2024.
Menurutnya, biopori menjadi solusi efektif untuk mendukung upaya bank sampah dalam mengelola limbah organik sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap tempat pembuangan sampah.
Lucy juga mengungkapkan bahwa metode biopori sangat cocok diterapkan di lingkungan pemukiman padat.
Dengan lubang yang relatif kecil, biopori dapat dibuat di halaman rumah atau sudut-sudut lahan kosong.
Selain itu, inisiatif ini diharapkan dapat memperluas peran bank sampah, termasuk membantu bank sampah lain yang mungkin menghadapi kesulitan dalam pemanfaatan biopori.
Harapan untuk Masa Depan Pengelolaan Sampah di Yogyakarta
Pemerintah berharap upaya ini dapat menjadi alternatif efektif untuk mengurangi volume sampah di Kota Yogyakarta.
Dengan penerapan biopori di 45 kelurahan, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah organik yang baik.
Targetnya, sampah organik tidak lagi berakhir di depo atau TPA, melainkan diolah langsung di tingkat rumah tangga.