JOGJA - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Jogja mengalami peningkatan signifikan. Parahnya, penyakit yang disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti itu mayoritas menyerang anak-anak.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, hingga bulan Oktober tahun ini tercatat sudah ada 238 kasus. Angka DBD itu melampaui temuan dua tahun terakhir. Lantaran pada tahun 2023 hanya ada 88 kasus, sementara tahun 2022 ditemukan 174 kasus.
Endang membeberkan, temuan kasus DBD di Kota Jogja untuk tahun ini mayoritas menyerang anak-anak. Namun beruntungnya tidak ada pasien meninggal dunia. Bahkan, untuk pasien DBD yang sebelumnya menjalani perawatan inap di rumah sakit juga dinyatakan sembuh secara keseluruhan.
Menurutnya, naiknya kasus DBD pada tahun ini juga terjadi secara nasional atau hampir ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Faktornya bisa dikarenakan pengaruh musim atau mulai menurunnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Dibanding tahun lalu memang ada kenaikan, dan kenaikan ini juga terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Endang, Jumat (15/11).
Endang merinci, untuk sebaran kasus DBD di Kota Jogja cukup merata dan peningkatan kasusnya cukup fluktuatif. Namun untuk temuan kasus paling banyak berada di Kelurahan Sorosutan dengan 17 kasus, lalu Kricak 15 kasus dan Wirogunan 14 kasus pada bulan November ini.
Memasuki musim penghujan seperti sekarang, dia pun menghimbau agar masyarakat lebih mewaspadai penyakit DBD. Sehingga perlu dilakukan pencegahan dengan PSN.
Kemudian juga menerapkan 4M plus. Yakni menguras bak mandi dan tempat penampungan air, menutupnya agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, memantau jentik nyamuk dan mengubur barang bekas.
“Kami juga bekerjasama dengan universitas untuk teknologi nyamuk ber-Wolbachia dalam pengendalian DBD,” terang Endang.
Sementara itu Kepala Puskesmas Umbulharjo 1 Yunita Haryanti menyampaikan, pihaknya terus berupaya melakukan penanganan dan pengendalian DBD. Bahkan untuk kegiatan edukasi pencegahan langsung petugas puskesmas juga langsung terjun ke masyarakat.
Lebih dari itu, Puskemas Umbulharjo 1 juga memanfaatkan media sosial untuk edukasi melalui konten ataupun infografis. Serta dilakukan abatisasi atau pemberian serbuk abate pada tempat-tempat yang digenangi air untuk membunuh jentik nyamuk aedes aegypti.
“Kami juga lakukan fogging sesuai SOP berdasarkan penyelidikan epidemiologi,” imbuh Yunita. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin