JOGJA - Pengembangan lahan untuk produksi pangan di Indonesia semakin terhambat akibat potensi tumpang tindih dengan kebutuhan bahan baku bioenergi. Jika tanpa perencanaan penggunaan lahan yang jelas, sektor pangan berisiko terganggu oleh ekspansi industri biofuel dan biofood.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Dr. Didiet Heru Swasono.
Dia mengatakan, pengembangan lahan produksi pangan sering beririsan dengan rencana industri energi. Memanfaatkan produk pertanian untuk bahan bakar atau energi terbarukan.
"Pengembangan lahan yang semula direncanakan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, bisa saja dialihkan ke industri biofuel atau biofood," kata Didiet Heru Swasono.
Contohnya, dalam rencana pengembangan industri gula di Papua. Meski terlihat ada potensi memenuhi kebutuhan pangan, muncul kekhawatiran pengembangannya justru lebih mengarah pada kepentingan energi.
"Kita harus pastikan, apakah ini benar-benar untuk pemenuhan kebutuhan gula bagi masyarakat atau justru untuk energi," ujar salah satu sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dewan Ketahanan Pangan Provinsi D.I. Jogjakarta tersebut melanjutkan, kasus serupa juga terjadi di beberapa daerah lain Lampung, misalnya. Produksi singkong lebih dikenal sebagai bahan pangan, namun ada potensi bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri bioenergi.
"Kita harus memastikan apakah pengembangan lahan ini benar-benar untuk pangan atau kepentingan biofuel," ungkapnya.
Menurutnya isu ini juga terjadi di daerah-daerah lainnya, seperti Bogor dan Jogjakarta. Pengembangan wilayah untuk produk pangan tertentu seringkali bersinggungan dengan industri energi.
"Kejelasan peruntukan wilayah sangat penting, agar pengembangan tidak hanya fokus pada industri energi, namun juga memperhatikan kebutuhan pangan masyarakat," tegasnya.
Karenanya, pengembangan wilayah diharapkan dapat lebih terintegrasi antara sektor pangan dan energi. Dengan perencanaan yang mengutamakan keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
"Kami mendorong pemerintah agar segera menyusun peta pengembangan yang jelas agar sektor pangan tidak terabaikan demi kepentingan industri energi," pintanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang semakin fokus pada pengembangan energi terbarukan, termasuk bioenergi. Namun, isu ketahanan pangan tetap menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan. Mengingat banyak wilayah di Indonesia masih bergantung pada sektor pertanian.
"Penentuan alokasi lahan untuk pangan dan energi harus dilakukan secara hati-hati dan bijaksana," ungkapnya.
Sementara itu seorang petani Yudi mengaku hasil panen hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
"Kalaupun di jual hasil panen tidak seberapa, bahkan biasanya harga turun," kata Yudi. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin