JOGJA - Meskipun ada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di beberapa sektor, penyerapan tenaga kerja di DIY cenderung menunjukkan tren positif. Hal ini didorong sektor-sektor yang terus berkembang serta keterampilan dan pengalaman yang dimiliki tenaga kerja lokal.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati mengatakan, penurunan pengangguran di DIY memang sejalan dengan kondisi ekonomi yang lebih kondusif pada 2024. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
“Kalaupun ada PHK, bukan berarti begitu di-PHK langsung menganggur. Ada yang langsung ditangkap oleh perusahaan lain karena sudah memiliki pengalaman. Jadi ada perusahaan yang menambah karyawan,” katanya Senin (5/11/2024).
Dari pengamatan BPS DIY, meskipun ada beberapa PHK, tidak selalu berujung pada pengangguran jangka panjang. Banyak pekerja yang di-PHK bisa langsung beralih ke pekerjaan lain atau bahkan memulai usaha sendiri. Ini menunjukkan bahwa keterampilan dan pengalaman kerja yang dimiliki oleh banyak tenaga kerja di DIY mudah diterima di pasar kerja.
“Ada sedikit pengurangan tenaga kerja tapi mereka langsung switch. Bisa jadi mereka langsung usaha sendiri, jadi tetap tidak menganggur, atau ditangkap oleh perusahaan lain karena memang yang di-PHK ini sudah punya skill atau pengalaman kerja,” jelas Herum.
Dia menyebut, penyerapan tenaga kerja untuk lulusan SMA atau sederajat di DIY memang tergolong tinggi. Banyak di antara mereka yang dapat langsung bekerja setelah lulus atau melanjutkan ke dunia usaha.
Dari catatan BPS DIY, penyerapan tenaga kerja di DIY pada Agustus 2024 didominasi oleh penduduk bekerja dengan pendidikan SMK sebanyak 546,58 ribu orang atau sebesar 25,04 persen. Jika dibandingkan dengan Agustus 2023, peningkatan terbesar terjadi pada tenaga kerja dengan pendidikan SMK, yaitu sebesar 0,85 persen poin.
“Pengangguran mengalami penurunan, karena memang kondisi di tahun 2024 lebih kondusif sehingga memungkinkan penduduk melakukan aktivitas ekonomi,” ucap Herum.
Meski begitu, fenomena yang menarik adalah fluktuasi tingkat pengangguran yang terjadi setiap tahunnya. Terutama pada periode sekitar Agustus jika dibandingkan dengan bulan Februari. Hal itu karena Agustus bertepatan dengan masa wisuda dan kelulusan. Banyak lulusan baru yang belum langsung mendapatkan pekerjaan dan tercatat sebagai pengangguran, meskipun mereka baru saja lulus.
“Biasanya yang baru sebulan atau belum mencapai sebulan lulus itu tidak langsung dapat pekerjaan, sehingga tercatat sebagai pengangguran. Jadi kondisi (pengangguran) di Agustus relatif tinggi dibanding Februari,” jelas Herum.
Guna menekan angka pengangguran, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY memberikan modal bagi siswa SMA/SMK yang mengembangkan kewirausahaannya.
"Mereka (siswa SMA/SMK) mendapat beasiswa bantuan modal, satu kelompok sebesar Rp 10 juta. Intinya untuk stimulan karena usahanya masih kecil-kecilan dan masih sambil belajar," kata Kepala Disdikpora DIY Didik Wardaya.
Menurutnya, banyak siswa SMA/SMK yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Namun, mereka juga belum diterima bekerja di sektor formal ataupun non formal. Karenanya untuk mengurangi tingkat pengangguran, selain pelatihan kewirausahaan, Disdikpora DIY memberikan modal usaha yang dimanfaatkan untuk pengembangan usaha siswa. “Hasilnya cukup positif, sejumlah siswa bahkan mampu meraih pendapatan yang cukup baik di angka Rp 20 juta hingga Rp 64 juta per bulan,” ungkap Didik. (tyo/laz)
Editor : Din Miftahudin