Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DIY Cabut Status Darurat Kekeringan, Keluarkan  Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi hingga 24 November

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 5 November 2024 | 05:05 WIB
Ilustrasi mendung menjelang hujan di Kota Jogja.
Ilustrasi mendung menjelang hujan di Kota Jogja.

 

 

JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ resmi memberlakukan status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah. Status ini dikeluarkan setelah mencabut status darurat kekeringan yang telah diberlakukan sebelumnya.

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Noviar Rahmad mengatakan, status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah berlaku mulai 24 Oktober sampai 24 November 2024. Hidrometeorologi basah merupakan bencana hidrometeorologi yang terjadi akibat adanya cuaca ekstrem seperti curah hujan lebat melebihi normalnya.

Fenomena ini sering terjadi di musim hujan. "Ada potensi banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung dan curah hujan ekstrem," ujarnya saat dikonfirmasi kemarin (4/11).

Ia memperkirakan hujan lebat berpotensi terjadi di semua wilayah. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selalu update kondisi cuaca dalam dua jam sekali. "Untuk longsor yang perlu waspada Kulon Progo dan Gunungkidul. Potensi banjir juga diwaspadai di sungai berhulu di Merapi seperti Code dan Boyong," tuturnya.

Daerah yang berpotensi terjadi tanah longsor di Kulon Progo yakni Perbukitan Menoreh. Walau demikian, selama tiga hari wilayah DIJ telah dilanda hujan lebat dan belum ditemui informasi adanya tanah longsor. "Dampak paling banyak kemarin adalah pohon tumbang," bebernya.

Bantuan peralatan penanggulangan bencana di Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana) telah dilakukan. Tahun ini enam titik lokasi Kaltana telah diberikan bantuan alat itu.

"Setiap wilayah rata-rata sudah ada senso (gergaji mesin) di BPBD wilayah untuk menebangi ranting ataupun pohon yang berpotensi roboh dan membahaayakan," tuturnya.

 Baca Juga: Belajar Bahasa Inggris, Siswa MTsN 6 Bantul Diajak Bermain Game Kahoot dengan Mode Submarine 

BPBD Kabupaten Bantul mulai bersiaga menghadapi musim penghujan. Ancaman bencana hidrometeorologi mengintai di seluruh wilayahnya, utamanya angin kencang. Data tiga hari terakhir, Sabtu-Senin menunjukan ada 15 pohon tumbang di Bantul.

Jumlah ini tersebar di sejumlah kapanewon. Di antaranya Kapanewon Bantul, Pajangan, Sanden, Jetis, Bambanglipuro, Banguntapan, Pleret, dan Sedayu. "BPBD selalu siap menerima laporan dari masyarakat untuk menindaklanjuti," ujar Kabid Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol keamrin (4/11).

Menurutnya, ketika musim penghujan seperti sekarang angin kencang akan datang terlebih dahulu. Selanjutnya banjir dan longsor menyusul dampak kebencanaan di Bantul.

Untuk ancaman pohon tumbang rata di semua titik Bantul rentan terjadi. Selama ada angin kencang dan pohon besar dapat terjadi tumbang.

"Hujan mulai rata banjir, lantas longsor, tanah itu keduanya saling berkaitan," tambahnya. Banjir di Bantul ditimbulkan karena banyaknya sampah di saluran air sehingga menyumpal aliran.

Antoni mengaku, FPRB akan dioptimalkan untuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Nantinya akan ada posko di 36 kalurahan jika berdasarkan data tahun lalu. Diharapkan seluruh kalurahan (ada 75) memiliki pos entah tinggi atau rendahnya potensi bencana.

"Pos itu stand by untuk menerima laporan kebencanaan," tuturnya. Sementara itu dari 15 pohon tumbang menimpa rumah, kandang ternak, jaringan telkom, akses jalan, dan gazebo. Beruntungnya tidak ada korban jiwa yang ditimbulkan dari pohon tumbang.

Kendati begitu, kerugian materiil tentu saja dialami dan ditaksir sampai jutaan rupiah. Antoni mengimbau, warga dapat swadaya melakukan penebangan terhadap pohon yang sudah tua dan besar. Itu upaya penanggulangan agar tidak terjadi pohon tumbang. (oso/rul/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Kekeringan #Darurat Bencana Hidrometeorologi #siaga #BPBD