JOGJA - Gedung berwarna oranye di kawasan Jalan Persatuan dan diapit Gelanggang Inovasi Kreasi (GIK) UGM, bakal jelas nasibnya. Setelah hampir 20 tahun mangkrak, gedung ini pun dirobohkan.
Sekretaris Universitas UGM Dr Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu mengungkapkan, secara umum gedung ini bernama Gama Bookstore. Nama itu diambil sesuai tujuan awal pembangunannya yakni ruang publik dengan konsep bookstore.
"Ya, hampir 20 tahun yang lalu memang gedung itu diusulkan untuk jadi semacam ruang publik. Waktu itu disebutnya UGM Bookstore," katanya Kamis (31/10/2024).
Namun dalam prosesnya ternyata ada masalah, yakni berkaitan dengan perizinan dan kerangka bangunan itu sendiri. Praktis setelah dibangun, gedung ini tidak pernah benar-benar difungsikan. "Makanya kemudian ketika mau beroperasi, gedung itu tidak mendapatkan izin operasional," ungkapnya.
Sampai akhirnya GIK UGM resmi dibangun yang secara konsep akan menjadi ruang publik untuk mengakomodasi visi dan misi UGM. Serta, memfasilitasi kegiatan mahasiswa, komunitas publik dan profesional sehingga menghasilkan masyarakat sipil yang kritis dan terbuka.
Secara teritori, Gama Bookstore saat ini dihimpit atau berada di tengah-tengah GIK yang sudah rampung pengerjaannya. Sehingga dari pihak UGM memutuskan untuk merobohkan Gama Bookstore dan turut dijadikan bagian dari GIK itu sendiri.
Pada awal 2024 lalu, Andi menuturkan sudah ada komunikasi yang dijalin dengan Majelis Wali Amanat (MWA), senat akademik, hingga pimpinan universitas untuk akhirnya UGM menyudahi sengketa dengan pihak ketiga. "Karena sebenarnya yang membangun adalah pihak ketiga. Hanya lahannya saja di lingkup UGM," jelasnya.
Karena tidak pernah beroperasi, lanjut Andi, akhirnya UGM membayar ganti rugi berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA). Menyoal ganti rugi yang harus ditanggung UGM, Andi mengakui angkanya cukup besar, namun ia tidak mengingat secara pasti berapa rinciannya.
"Nilai ganti rugi lumayan besar, saya lupa angka persisnya. Awal tahun sudah dibayar dan sejak itu kita take over. Setelah membayar ganti rugi, kemudian kita buka lagi desain dan tata perencanaan bangunannya," bebernya.
Secara konsep ia menuturkan Gama Bookstore itu nantinya akan digunakan sebagai ruang terbuka dan akan jadi landscape bagian dari GIK di sisi Barat. "Rencananya itu akan jadi akses dari sisi barat untuk masuk ke GIK," ungkapnya.
Saat ini proses perobohan bangunan tengah dikebut. Ia memperkirakan estimasi perobohan akan selesai akhir tahun ini sehingga awal tahun depan diharapkan bisa segera dimulai penataan landscape untuk GIK.
"Sekarang sedang proses meruntuhkan. Karena GIK sudah jadi dan jaraknya terlalu dekat, maka modelnya di- cutting. Diruntuhkan ke dalam agar tidak berdampak pada GIK itu sendiri dan kawasan jalan," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita