JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut suhu panas yang terjadi di DIY pada siang dan malam hari akan segera berakhir. Penurunan suhu nantinya akan terjadi seiring dengan mulai masuknya musim penghujan.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, dari hasil pemantauan pihaknya suhu panas di DIY paling sering terjadi di pertengahan Oktober. Yakni pada (12/10/2024) dengan catatan suhu 37,6 derajat celcius di kabupaten Gunungkidul.
Kemudian pada tanggal (13/10/2024) suhu panas kembali terjadi di Gunungkidul dengan catatan 37,3 derajat. Kemudian juga di kabupaten Sleman pada tanggal (12/10/2024) dengan catatan suhu 36,8 derajat celcius.
Dia menghimbau, agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan peningkatan suhu tersebut. Sebab, diprediksi suhu panas di DIY akan segera berakhir seiring dengan masuknya musim penghujan pada bulan November mendatang. Artinya, saat ini DIY tengah menghadapi masa pancaroba.
Perihal himbauan BMKG pusat tentang potensi suhu di Indonesia termasuk Pulau Jawa yang dapat mencapai 38, 4 derajat celcius. Reni memastikan, bahwa kondisi tersebut tidak mungkin bisa terjadi di wilayah DIY karena faktor gerak semu matahari.
“Untuk sekarang tidak memungkinkan terjadi suhu hingga 38,4 derajat celcius di DIY, karena gerak semu matahari menjauhi wilayah equator. Sehingga suhu udara maksimal diperkirakan berkisar 31-32 derajat celcius,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Kamis (31/10).
Meskipun demikian, Reni tetap meminta agar masyarakat mewaspadai dampak dari cuaca panas yang terjadi sekarang. Sebab tidak menutup kemungkinan suhu panas dapat menyebabkan dehidrasi atau membawa berbagai potensi penyakit.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengurangi aktifitas di luar ruangan dan mencukupi kebutuhan air minum. Serta menggunakan topi atau payung agar kepala dan tubuh bisa terlindungi jika terpaksa melakukan aktivitas di luar ruangan.
“Untuk mengurangi rasa panas di tubuh, masyarakat juga perlu untuk menggunakan pakaian yang ringan, longgar, dan nyaman. Serta sebisa mungkin menghindari paparan sinar matahari langsung,” imbuh Reni.
Secara terpisah, Ketua Tim Kerja Surveilans Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Jogja Solikhin Dwi menyampaikan, musim pancaroba dapat meningkatkan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan faringitis. Adapun hingga bulan Oktober ini saja sudah tercatat 59.092 kasus ISPA. Sementara faringitis ditemukan 9.420 kasus.
Solikhin mengungkapkan, tingginya temuan ISPA dan faringitis disebabkan beberapa faktor pengaruh musim kemarau panjang. Serta aktivitas kendaraan yang meningkatkan produksi partikel debu halus atau Particulate Matter (PM2.5).
“Dengan menjaga pola hidup sehat dan segera melakukan pengobatan jika mengalami gejala, maka dampak dari infeksi saluran pernapasan dan faringitis dapat diminimalisir,” pesannya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin