Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prediksi BMKG Hujan Mulai Turun, DPKP DIY Minta Petani Jeli Petakan Periode Tanam

Elang Kharisma Dewangga • Minggu, 20 Oktober 2024 | 05:25 WIB
 
Petani menanam padi
Petani menanam padi
 
JOGJA - Hujan kini mulai turun di beberapa wilayah DIJ, selain transisi pergantian musim dari kemarau ke musim hujan. Ini juga menjadi salah satu indikasi, bahwa musim tanam padi akan segera berlangsung.
 
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ Hery Sulistio Hermawan memproyeksikan, bahwa Masa Tanam pertama (MT 1) untuk wilayah DIJ akan terjadi pada Oktober-November 2024 ini.
 
"Proyeksi masa tanam ini berlaku untuk wilayah yang beririgasi teknis," katanya, Sabtu (19/10).
 
Sementara, untuk wilayah yang lahannya tadah hujan baru akan memasuki masa tanam setelah ada hujan dengan intensitas 50 milimeter (mm) per hari. Atau dengan kata lain, setelah memasuki kategori hujan lebat.
 
"Ini juga sesuai informasi BMKG, yang akan terjadi di Dasarian III Oktober," ungkapnya.
 
Baca Juga: Lawan Barito Putera di Bantul, Pemain PSS Sleman Harus Cepat Adaptasi dengan Skema Mazola
Baca Juga: Dimulai dengan Tari Suko Pari Suko, Warga Kalurahan Girisuko Gunungkidul Gelar Tradisi Labuhan
Baca Juga: Pawiyatan Jawi Agar ASN Pemkot Jogja Tak Salah Terapkan Budaya Jawa 
 
Hery berpesan, para petani juga harus jeli memetakan periode tanam yang akan dilakukan. Sebab, jika memaksakan tanam ketika curah hujan terlampau tinggi, hal tersebut juga kurang bijaksana.
 
"Kendala yang mungkin dihadapi itu intensitas curah hujan yang terlalu tinggi, bisa berdampak banjir. Jadi petani harus teliti juga," pesannya.
 
Sementara itu, kekhawatiran soal potensi banjir yang mungkin terjadi akibat curah hujan yang terlampau tinggi, juga menjadi sorotan dosen prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Oki Wijaya.
 
Oki mengamati, beberapa titik di DIJ, ketika hujan deras berpotensi terjadi banjir. Hal itu juga ada kaitannya dengan berkurangnya lahan pertanian secara umum, bahkan salah satu aspek yang berpotensi terendam banjir adalah lahan pertanian itu sendiri.
 
Ia menerangkan, berkurangnya lahan pertanian biasanya berarti berkurangnya juga area tanah yang mampu menyerap air hujan secara alami. Lahan pertanian yang produktif punya kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air, yang dapat mengurangi risiko banjir. 
 
Baca Juga: Laka Lantas di Ringroad Maguwoharjo Libatkan Tiga Kendaraan, Tiga Korban Langsung Dapatkan Perawatan di RS Hermina
Baca Juga: Menjalani Slow Living: Hidup Santai dan Bahagia dengan Penghasilan Pas-Pasan Tanpa Stres
Baca Juga: Jogja Jadi Tuan Rumah Pertama Gelaran The Grand Triumph: Kejuaraan Panahan Indoor Internasional dengan Lebih dari 1.000 Peserta dari 8 Negara
 
"Ketika lahan pertanian dikonversi jadi lahan non pertanian seperti rumah, jalan, atau bangunan komersial, kemampuan resapan air berkurang, dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras," bebernya.
 
Disebutkan, perubahan penggunaan lahan dari pertanian jadi perkotaan atau komersial dapat meningkatkan volume limpasan permukaan saat hujan deras. Lahan pertanian yang tertutup oleh vegetasi seperti tanaman padi atau ladang dapat menyerap sebagian besar air hujan. 
 
"Namun, dengan konversi lahan jadi perkotaan, banyak area yang tertutup oleh permukaan keras seperti beton atau aspal, menyebabkan air hujan mengalir langsung ke saluran air tanpa diserap tanah," urainya.
 
"Akibatnya, volume air yang masuk ke saluran air meningkat, yang dapat menyebabkan meluapnya sungai dan banjir," tandasnya (iza).
Editor : Heru Pratomo
#masa tanam #pergantian musim #DIJ #DPKP #Hujan #BMKG #Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan