JOGJA - Krisis Iklim di DIY dinilai nempengaruhi kondisi pangan. Cuaca ekstream yang tidak menentu seperti kekeringan yang berkepanjangan di beberapa daerah mengancam keberlanjutan produksi pangan lokal.
Data dari Badan Ketahanan Pangan DIY menunjukkan Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo sering menghadapi tantangan ketahanan pangan. Hal itu karena dampak kekeringan berkepanjangan yang mempengaruhi sumber daya air."Tahun 2023, menurut data BPS, luas panen tanaman pangan di Jogjakarta mengalami penurunan sebesar 5,23 hektare," ujar Kadiv Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogjakarta Elki Setiyo H Kamis (17/10).
Penurunan itu berdampak pada profuktivitas tanaman pangan yang juga menurun sebesar 4,91 persen dibandingkan tahun 2022. Selain itu, total luas potensi gagal panen mencapai 898,19 hektare. "Meningkat 48,49 persen dibandingkan tahun 2022," tuturnya.
pertaniBaca Juga: Pemkab Bantul Kaji Penggunaan Teknologi Penyiraman Otomatis untuk Pertanian
Menurutnya, hal itu juga berdampak pada aspek ekologi (kesuburan tanah), ekonomi (produksi), sosial-budaya (kultur pertanian) dan politik (krisis multidimensional). Kabupaten Gunungkidul tingkat kerawanan pangan masih tinggi, dengan hampir 30 persen wilayahnya tergolong rawan pangan."Kulon Progo, yang dikenal dengan produksi pertanian lahan kering, sering kali kesulitan menjaga kestabilan hasil panen akibat perubahan iklim yang cukup drastis," tegasnya.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY R. Hery Sulistio Hermawan mengatakan, saat ini di DIJ sudah tidak ada daerah rawan pangan yang darurat. Berdasarkan data yang ia peroleh, ketahanan pangan di DIJ berangsur membaik. "Dari produksi, akses dan pola masyarakat semakin membaik," ujarnya.
Namun beberapa daerah memang harus diperhatikan seperti Kulon Progo dan Gunungkidul. Pasalnya, di daerah itu banyak sawah merupakan tadah hujan, sehingga hanya mengandalkan perariran dari air hujan. "Tanam padi sekali dua kali setelah itu palawija, seperti itu siklusnya," tuturnya.
Antisipasi kesitan air, pihaknya juga telah melakukan pompanisasi dan irigasi perpompaan untuk menyedot air dari sungai ataupun sumur bawah tanah. Selain itu, pohaknya juga melakukan sosialisasi terkait dengan benih tanaman yang cocok di lahan kering."Pertanian harus memperhatikan lahan, air, nutrisi dan tanaman. Kalau lahan Gunungkidul cocoknya benih padi gogoh yakni cocok di lahan kering," jelasnya.
pertanianBaca Juga: Implementasikan Pertanian Modern, Kementan Bersinergi dengan Pemda Sukoharjo Sambut Mahasiswa MSIB
Hingga saat ini DPKP DIY telah menyelenggarakan program pompanisasi di ratusan titik lahan pernaian di DIY. Sedangkan untuk irigasi perpompaan, kurang lebih telah dilakukan di 37 titik di Gunungkidul sebagai antisipasi krisis iklim. (oso/laz)
Editor : Din Miftahudin