GUNUNGKIDUL - Penampilan kesenian reog klasik asal Gunungkidul disambut antusias oleh masyarakat. Penari dari masing-masing kapanewon menampilkan aksinya pada festival reog dan jathilan di Alun-Alun Wonosari, Kamis (17/10). Kegiatan gelar budaya itu bertujuan mengangkat kembali reog khas Gunungkidulan yang mulai jarang ditampilkan.
Staff Bidang Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni Kundha Kabudayan Gunungkidul Sandyo mengatakan, masing-masing kapanewon mengirimkan dua tim untuk menampilkan kesenian reog dan jathilan. Dengan adanya festival ini, harapannya dapat terangkat kembali. “Khususnya Reog Dhodhog," ujar Sandyo.
Reog Dhodhog mulai jarang ditampilkan oleh anak-anak muda. Penari tradisional yang masih melestarikan hanya dari kalangan-kalangan orang tua. Pihaknya juga telah menyiapkan hadiah berupa uang tunai dan piagam penghargaan. Juara I sebesar Rp 10 juta, juara II Rp 9 juta, juara III Rp 8 juta, dan juara IV Rp 7 juta. "Festival ini merupakan kegiatan tahunan, harapannya kesenian reog klasik dan jathilan dapat terus dilestarikan oleh semua kalangan," tuturnya.
Koreografer tari reog asal Kapanewon Wonosari Ozy Azura Fauziah mengatakan, penari reog asuhannya telah menampilkan yang terbaik. Tim Wonosari bernama Reog Sigrak Tamtama terdiri dari 16 penari dan 9 pemusik."Reog yang kami tampilkan tentang kisah Arya Penangsang saat membalaskan dendamnya," ujar Ozy.
Gerakan yang ditampilkan menggambarkan semangat Arya Penangsang dan prajuritnya dalam membalaskan dendamnya namun berakhir dengan kekalahan. Ozy mengatakan, penampilan berdurasi selama 17 menit lamanya. "Alhamdulillah tim kami telah menampilkan yang terbaik, targetnya sudah pasti juara," tuturnya.
Selaku pelaku seni, Ozy berharap kegiatan gelar budaya terkhusus tari-tari tradisional dapat terus diadakan untuk menampilkan bakat-bakat penari asal Gunungkidul. (ndi/din)
Editor : Din Miftahudin