Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kota Jogja Harus Siapkan Ketahanan Pangan melalui Gotong Royong Demi Hadapi Perubahan Iklim

Iwan Nurwanto • Rabu, 16 Oktober 2024 | 16:10 WIB
KOMODITAS UTAMA: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman.
KOMODITAS UTAMA: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman.

 

RADAR JOGJA - Perubahan iklim tak sekadar isu belaka. Langkah antisipasi harus dilakukan. Sigit Nurcahyo yang diberikan amanah sebagai anggota DPRD Kota Jogja periode 2024-2029. Legislator yang berangkat dari PDI Perjuangan ini akan fokus mendorong ketahanan pangan agar Kota Jogja siap menghadapi perubahan iklim.

Sigit mengatakan, perubahan iklim merupakan isu yang kini mulai diperbincangkan oleh masyarakat. Kondisi tersebut tentu harus menjadi perhatian karena merupakan salah satu bukti bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja.

Oleh karena itu, Sigit menilai, baik pemerintah, legislatif maupun masyarakat harus bersiap untuk menghadapi perubahan iklim. Sebab tidak menutup kemungkinan kondisi tersebut akan berdampak pada terganggunya ketahanan pangan. Terlebih, Kota Jogja juga merupakan daerah yang tidak memiliki lahan pertanian luas seperti kabupaten lain di Jogja.

Baca Juga: Kerusakan karena Hujan dan Angin di Kabupaten Sleman, Kerugian Ditaksir Lebih dari Rp 700 Juta

Baca Juga: Polisi Sebut Ada Enam Titik Rawan Gesekan Simpatisan Partai Saat Kampanye Terbuka Pilkada 2024, Berikut Daftarnya !

“Dengan urbanisasi yang pesat dan keterbatasan ruang hijau, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Jogja memastikan ketahanan pangannya di masa depan di tengah keterbatasan ini,” ujar Sigit kepada Radar Jogja, Senin (14/10).

Dia menilai, Kota Jogja sebagai wilayah yang memiliki lahan pertanian terbatas tentu tidak bisa mengandalkan metode pertanian tradisional. Ketergantungan pada daerah lain untuk pasokan pangan pun menjadi semakin rentan karena perubahan iklim yang mempengaruhi pola musim, curah hujan, dan ketersediaan air.

Karena itu, kata Sigit, Jogja membutuhkan pendekatan yang lebih berkelanjutan, berinovasi dengan teknologi dan praktik-praktik pertanian perkotaan. Beberapa kota besar di dunia telah berhasil menghadapi tantangan ini melalui pertanian perkotaan, seperti hidroponik dan vertikultur.

“Jogja bisa menerapkan pendekatan serupa untuk mengatasi keterbatasan lahan dan memanfaatkan ruang perkotaan untuk produksi pangan. Urban farming dapat menjadi solusi strategis yang relevan, memanfaatkan setiap sudut kota untuk meningkatkan ketahanan pangan lokal,” ungkapnya.

Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) bisa menjadi ujung tombak dalam penerapan kebijakan ini di tingkat lokal. Melalui LKK, masyarakat bisa diberdayakan untuk berpartisipasi aktif dalam program ketahanan pangan, seperti kebun bersama, pasar tani, dan inisiatif lingkungan hijau.

“Prinsip gotong royong, yang menjadi akar budaya Jogja, dapat diperkuat dalam kerangka good governance untuk menciptakan solusi berbasis komunitas yang berkelanjutan,” terang Sigit.

Kemudian di era digital, inovasi teknologi memainkan peran vital dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas pangan, terutama di kota dengan ruang terbatas seperti Kota Jogja.

 

Baca Juga: Jepang Ditahan Imbang Australia 1-1, Tren Kemenangan dan Cleansheet Samurai Blue SirnaTeknologi pertanian pintar, seperti sistem irigasi otomatis dan sensor cuaca, dapat membantu mengatasi keterbatasan lahan dan air. Dengan memanfaatkan teknologi ini, produksi pangan bisa ditingkatkan, meski dalam skala kecil.

Selain itu, pendidikan dan pelatihan tentang teknologi pertanian modern harus terus ditingkatkan. Sebagai kota pendidikan, Jogja memiliki banyak universitas dan lembaga riset yang bisa berkolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta dalam mengembangkan model pertanian perkotaan yang inovatif. Penelitian dan eksperimen tentang teknik-teknik baru bisa menjadi landasan kuat dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Ketahanan pangan di Kota Jogja di tengah perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya alam memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan inovasi teknologi. Good governance, yang diterapkan melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan dan asas gotong royong, menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan sistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dengan visi yang jelas, kolaborasi aktif, dan pemanfaatan teknologi tepat guna, Jogja memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang tangguh menghadapi tantangan pangan global. Perubahan iklim, kata dia, akan terus memberikan tekanan, tetapi Jogja, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi contoh sukses dalam menghadapi krisis ini. “Melalui kepemimpinan yang baik dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan,” tandas Sigit. (*/inu/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Kota Jogja #ruang hijau #urbanisasi #pemkot #Pasar Tani #Hidroponik #DPRD #ketahanan pangan