Hanya berbekal kata "Mbok Kaboel" dan "Kaligintung", gadis Suriname keturunan Jawa mencari tanah kelahiran nenek moyangnya. Gadis itu bernama Lindsey Dianti Soetodrono. Ditemani seorang fotografer profesional asal Magelang Dwikoen, Lindsey akhirnya berhasil menemukan keluarganya.
JIHAN ARON VAHERA, Purworejo
Lindsey sangat senang karena dari hasil pencariannya bersama Dwikoen, dia bisa menemukan desa asal kakek buyutnya. Selain itu, dia juga bertemu dengan mbah liknya yaitu Tulo."Saya tidak menyangka dan kaget, karena tidak ada kabar tahu-tahu dia datang. Itu tanggal 28 September lalu saat ke sini," ujar Tulo kepada Radar Joga Sabtu (12/10).
Dia mengaku senang karena meski terpisah oleh jarak dan waktu, saudaranya yang ada di belahan bumi lainnya itu masih mengingatnya. "Senang karena masih dianggap keluarga meski jauh," sambungnya.
Tulo menceritakan, Mbok Kaboel adalah pak dhenya. Sedangkan Lindsey adalah buyutnya Mbok Kaboel. "Mbahnya Lindsey itu dengan saya sepupu. Jadi, Lindsey itu istilahnya putu iringan saya," terangnya.
Beberapa waktu Tulo memang mengaku sering kedatangan saudara yang dari luar negeri. Namun dengan Lindsey baru kali pertama bertemu. Pada 2003, dia pernah kedatangan cucu pakdhenya dari Suriname. "Mereka juga sempat mencari keluarga atau saudara dari Mbok Kaboel (seperti Lindsey)," katanya.
Kemudian pada 2009, 2013, dan 2019 juga pernah datang ke Kaligintung. "Kalau Lindsey belum pernah kontak, tapi kalau mbahnya pernah ke sini. Waktu ke sini (Lindsey) saya tidak kenal. Terus saya kontak mbahnya di Belanda dan dikirim fotonya (Lindsey) dan benar kalau itu cucunya," jelas Tulo.
Kisah pertemuan mereka itu bermula saat Dwikoen mendapatkan tamu dari Suriname bernama Lindsey pada September 2024 lalu. Diketahui, Dwikoen adalah seorang fotografer profesional yang sering mengabadikan lava pijar Gunung Merapi dari Ngori, Kabupaten Magelang. Dia sering mengunggah foto-foto hasil jepretannya di media sosial, salah satunya Facebook.
Seiring berjalannya waktu, banyak yang ingin ditemani Dwikoen untuk ikut motret, baik turis lokal maupun asing. Salah satunya Lindsey. Saat itu Lindsey bercerita bahwa dia keturunan Jawa berasal dari Kaligintung. Dwikoen akhirnya memutuskan untuk membantu gadis itu untuk mencari tanah leluhurnya.
Akhirnya dengan modal kata Kaligintung mereka mendatangi Desa Kaligintung yang masuk wilayah Kecamatan Temon, Kulon Progo. Setelah dikelilingi selama tiga jam lebih, mereka mencari informasi tentang Mbok Kaboel di desa itu tetapi hasilnya nihil. "Tak seorang pun orang-orang tua di desa itu tahu atau pernah dengar tentang Mbok Kaboel," ungkapnya.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah Kabupaten Purworejo. Sebab, di Purworejo juga terdapat Desa Kaligintung, tepatnya di Kecamatan Pituruh. "Setelah dua jam nyopir, sekitar pukul 16:45 akhirnya sampai di Desa Kaligintung," tuturnya.
Lagi, hanya berbekal kata 'Mbok Kaboel' mereka berkeliling desa dan menanyai warga sekitar. Hari sudah mulai petang, tapi pencariannya belum membuahkan hasil. Di tengah kepasrahan mereka, tiba-tiba datang seorang wanita tua yang hanya berbalut handuk lusuh tergopoh-gopoh mendatangi mereka.
Wanita tua itu bertanya kepada Dwikoen dan Lindsey. Akhirnya Dwikoen menceritakan maksud dan tujuannya yaitu mencari rumah atau bekas lahan milik Mbok Kaboel. "Syukur-syukur masih bisa bertemu dengan keturunannya Mbok Kaboel yang tinggal di Kaligintung," tambah dia.
Wanita tua itu lalu terdiam. Setelah beberapa menit dia lalu memberi petunjuk "Ngoten mas, sampeyan mlampah terus dalan aspal nika ngantos mangkih sampeyan ketemu kreteg dowo. Bar kreteg niku sampeyan terus menggok nengen nganti ketemu griya cat kuning. Niku griyane Tulo sing pakdhene lenggah teng Suriname," beber wanita tua itu.
Setelah mendapat informasi, Dwikoen dan Lindsey kemudian menyalami wanita tua itu lalu pamit mencari rumah yang dia ceritakan. Sepuluh menit kemudian, mereka menemukan jembatan lalu belok kanan. Setelah melewati beberapa rumah akhirnya menemukan rumah cat kuning seperti yang diceritakan wanita tua itu.
Baca Juga: Pentas di Jogja, Ditonton Warga Suriname
Singkat cerita, Dwikoen menyampaikan maksud kedatangannya. Pun, menceritakan asal usul Lindsey dan menyebut Mbok Kaboel. Syukurlah, pria paruh baya itu adalah Tulo dan memang memiliki hubungan dengan Mbok Kaboel. "Sopo jenengmu nduk? (siapa namamu nak?)," tanya Tulo kepada Lindsey.
Sambil menyalami Tulo, Lindsey kemudian memperkenalkan diri "Kulo Lindsey Dianti Soetodrono, my mother is Ponisem, my grandfather is Saiman. According to my mother's story Mbok Kaboel is my grandfather's mom," begitu dia menjelaskan kepada Tulo.
Setelah itu, Tulo bercerita tentang Mbok Kaboel. Yaitu cerita yang dia dapatkan dari almarhum Taman, ayahnya. "Mbok Kaboel adalah wanita kelahiran Kaligondang, desa sebelah Kaligintung. "Dia dipersunting Kastoebi, lelaki asal Kaligintung. Kaboel adalah nama panggilan Kastoebi sejak kecil," sebutnya.
Dari pernikahannya dengan Kastoebi, Mbok Kaboel melahirkan empat anak. "Pertama Saiman, kedua dan ketiga saya lupa karena mereka berdua meninggal dibunuh 'Gedhor' saat mereka masih kecil, dan keempat Taman," ungkapnya.
Tulo melanjutkan, Taman adalah anak keempat Mbok Kaboel yang selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh Gedhor pada waktu itu. Dia selamat karena saat itu masih bayi dan sedang dibawa oleh kakaknya Mbok Kaboel ke Kaligondang. "Saiman juga selamat karena saat rumah orangtuanya digedhor para penjahat, dia tengah bekerja di perkebunan Belanda di Kemiri," sambungnya.
Kemudian Saiman diberi tahu bahwa orang tua dan kedua adiknya dibunuh para gedhor yang merampok rumah orangtuanya. Takut ikut dibunuh para gedhor, Saiman lalu minta perlindungan tuan Belanda tempatnya bekerja. Saiman dan beberapa orang lain yang juga terancam oleh gedhor lalu diungsikan ke Purworejo.
"Di Purworejo mereka lalu ditawari kerja di perkebunan lain daerah. Saiman dan temannya setuju. Mereka lalu dikirim ke Tanjung Priok untuk naik kapal ke Suriname," lanjut Tulo.
Setelah beberapa tahun di Suriname, Saiman mulai mengirim kabar kepada kakak Mbok Kaboel untuk menanyakan kabar tentang Taman. Setelah mendapat kabar bahwa Taman masih hidup dia rutin mengirim uang untuk biaya hidup Taman dan untuk memperbaiki rumah orang tuanya yang rusak dijarah para gedhor.
Beberapa tahun bekerja di Suriname, Saiman akhirnya menikah dengan wanita Jawa Suriname. Dari pernikahannya Saiman mempunyai dua anak bernama Paiman dan Ponisem. Ponisem adalah ibu Lindsey yang Dwikoen pandu ke Kaligintung. (laz)
Editor : Din Miftahudin