GUNUNGKIDUL - Profesi petani masih dipandang sebelah mata. Kurangnya minat anak muda untuk menjadi petani mengancam regenerasi profesi tersebut.Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, hanya 427 petani milenial pada Tahun 2023 lalu. Padahal, Gunungkidul memiliki lahan pertanian yang luas. Luasan lahan mencapai 41.689,23 hektare.
Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, sebagian besar lahan pertanian digarap oleh petani berusia 45 tahun ke atas. Lahan pertanian tediri dari tanaman pangan, holtikultura, ternak, florikultura, umbian dan rimpang.Stigma miring terhadap profesi petani mengancam regenerasi petani. Hal itu pula dapat berdampak terhadap kurangnya produktifitas pangan apabila jumlah petani yang semakin berkurang setiap tahunnya."Untuk petani milenial mayoritas mengolah tanaman pangan dan holtikultura, dan jumlahnya sangat mengkhawatirkan untuk regenerasi selanjutnya," jelasnya.
Selain itu juga, pendapatan petani yang dinilai kurang memuaskan membuat anak muda enggan untuk menjadi petani. Bahkan, tidak sedikit pekerja tani dianggap sebagai pekerja yang kumuh dan kotor.Untuk itu, DPP Gunungkidul berupaya mengidentifikasi potensi pertanian di setiap kapanewonnya. Sebutan petani millenial juga sebagai usaha untuk mengajak anak muda untuk bertani."Kami telah membentuk kelompok petani milenial di beberapa kapanewon, agar lahan-lahan pertanian yang memiliki potensi terus produksi, dan terciptanya ketahanan pangan untuk daerah," ungkapnya.
Program patriot tani juga salah satu upaya peningkatan regenerasi petani. Sosialisasi mengenai patriot tani gencar dilakukan hingga tingkat kalurahan."Perangkat kalurahan juga ikut andil dalam mengajak anak muda untuk mentransformasi pola pikir generasi milenial agar lebih tertarik pada dunia pertanian," tuturnya.
Baca Juga: Pikat Generasi Muda, Kementan Luncurkan Program Pertanian Modern
Lebih lanjut, Rismiyadi menyebut, Kementerian Pertanian RI menargetkan 10.000 petani millenial se-Indonesia. Gunungkidul diharapkan dapat memiliki petani millenial yang berkualitas. (ndi/din)
Editor : Din Miftahudin