Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pos Pantau Peninggalan Zaman Belanda Masih Banyak Ditemukan di Berbagai Daerah, Kini Berubah Fungsi Mulai Pos Ronda hingga Tempat Jualan Warga

Delima Purnamasari • Minggu, 13 Oktober 2024 | 00:59 WIB

 

 

 

Delima Purnamasari/Radar Jogja

Batituud Koramil Godean Ignatius Mardani 

 

 

 

SAKSI SEJARAH: Gardu pantau zaman kolonial yang berada di Desa Plarangan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen difungsikan warga untuk berjualan.
SAKSI SEJARAH: Gardu pantau zaman kolonial yang berada di Desa Plarangan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen difungsikan warga untuk berjualan.

 

 

 

 

Di berbagai daerah kini masih banyak ditemukan semacam pos jaga peninggalan Belanda. Kabarnya itu merupakan pos pantau di masa kolonial. Bangunan kecil itu telah banyak berubah fungsi. Ada yang jadi pos ronda hingga sekadar untuk tempat berteduh.

Di wilayah Kapanewon Godean, Sleman, banyak ditemukan semacam pos jaga ini. Bangunan itu kini digunakan warga untuk tempat ronda hingga berdagang. 

Bangunan berdiri khas dengan dindingnya yang tebal serta beratap genting. Salah satunya ada di depan Markas Koramil 16/Godean."Di sini memang ada beberapa. Kalau yang di depan sering dipakai buat ronda, tapi sekarang sudah jarang," ujar Batituud Koramil Godean Ignatius Mardani. 

Batituud Koramil Godean Ignatius Mardani
Batituud Koramil Godean Ignatius Mardani

Oleh masyarakat bangunan ini juga ditambahi keramik sehingga lebih nyaman. Ignatius menjelaskan, ketika ada cat sisa dari pengecatan kantornya, pos peninggalan Belanda ini sempat ikut dicat. 

Menurutnya, berdasarkan cerita yang didengarnya pos ini dibangun pada masa Belanda. Hingga oleh pribumi digunakan sebagai pos pemberhentian sebab transportasi pada zaman itu masih sulit. "Jadi misal kalau mengantar orang mau melahirkan, berhenti di situ dulu," jelasnya. 

Sepemahamannya, memang belum ada perhatian khusus terkait pos bersejarah ini. Namun dia sempat mengetahui ada perwakilan dari Dinas Kebudayaan yang melakukan inventarisasi dan mengambil gambar. 

Senada dengan Ignatius, Kepala Dusun Dukuh XIV Sidokarto Suryanto menerangkan, bangunan pos peninggalan Belanda ini banyak dimanfaatkan oleh warga setempat. Mulai dari tempat berjualan koran, berjualan soto, hingga kini sebagai tempat istirahat Pak Ogah yang menyeberangkan jalan. "Sepanjang jalan ada beberapa. Kalau di Sidokarto ada dua pos," katanya. 

Berdasar yang dia tahu, dulu pos-pos ini selalu ada penjaganya. Sehingga ketika ada pribumi yang sakit atau kecelakaan akan digotong secara estafet antarpos. Para petugas pos ini juga berfungsi sebagai penyalur informasi. 

"Perawatan khusus dari warga tidak ada. Kalau mau dipakai saja dibersihkan. Ketika dulu dipakai pos kamling bahkan dipasangi televisi," ucapnya. 

Menurutnya, akan sangat baik apabila bangunan ini diberi perhatian lebih. Terlebih, bangunannya masih sangat bagus karena strukturnya yang kuat.  

Di Kebumen, salah satu bukti sejarah pada zaman kolonialiseme adalah keberadaan Benteng Van Der Wijck. Namun sejatinya masih banyak bangunan bersejarah di kabupaten ini yang bisa menjadi bukti perjalanan bangsa Indonesia. Seperti gardu pantau di Kecamatan Karanganyar yang didirikan sebelum masa kemerdekaan.

Gardu itu berada persis di simpang empat Jalan Perlawanan, Desa Plarangan, Kecamatan Karanganyar. Tepatnya di seberang Puskesmas Karanganyar atau sekitar satu kilometer dari pusat Kecamatan Karanganyar. "Dari saya kecil itu (gardu) sudah ada. Dulu kecamatan ini kan bentuknya kawedanan. Pisah dari kabupaten sekarang. Jadi, banyak peninggalan sejarah," ungkap warga setempat Untung Karnanto, Jumat (11/10).

Pria 60 tahun itu mengaku tak mengetahui pasti kapan gardu pantau dibangun. Namun di Kecamatan Karanganyar kini hanya menyisakan satu bangunan. Di mana sebelumnya juga terdapat bangunan serupa di dekat kompleks Alun-alun Karanganya. "Dari zaman orang tua saya sudah ada. Bangunan ajeg (tetap) seperti itu. Seingat saya dulu ada dua atau tiga, tapi sekarang sudah dirobohkan," terangnya.

Meski tergolong bangunan kuno, gardu pantau itu masih terlihat berdiri kokoh. Hanya saja beberapa sudut bangunan seperti bagian atap terlihat sudah cukup keropos. Bangunan berukuran sekitar 3x4 meter itu tampak memiliki dua pilar utama pada bagian depan. Sedangkan di sisi tembok kanan dan kiri dibuat terbuka layaknya sebuah pos ronda.

Gardu di tengah permukiman warga itu tampak menunjukkan arsitektur atau ciri khas bangunan lawas. Ini terlihat karena sebagian besar struktur bangunan masih memanfaatkan batu belah. Terutama pada bagian pilar dan tembok bawah. Sehingga meski bangunan ini sudah tergolong tua masih tetap terlihat kokoh.

Warga lain, Nurudin, 44, mengatakan, bangunan berupa gardu itu selama ini hanya difungsikan sebagai tempat santai warga. Namun seiring waktu gardu juga digunakan untuk tempat berjualan warga. "Kalau malam nongkrong di situ. Terus ada yang minat buat jualan. Selama tidak merusak dan saling menjaga saja," ucapnya. (del/fid/laz)

 

Editor : Din Miftahudin
#bangunan kuno #peninggalan belanda #Pos Jaga