Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Yogyakarta Sebut selama Masa Peralihan Musim, Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrim dan Hujan Es

Iwan Nurwanto • Kamis, 26 September 2024 | 13:20 WIB
Pengendara motor mengenakan jas hujan saat melintas di Kawasan Beran Lor, Tridadi, Sleman, Kamis (27/6).
Pengendara motor mengenakan jas hujan saat melintas di Kawasan Beran Lor, Tridadi, Sleman, Kamis (27/6).

 

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi puncak musim hujan di DIY tidak serentak. Diketahui, ada sebagian wilayah yang mengalami puncak musim hujan pada akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, ada dua potensi puncak musim hujan di DIY. Pertama, berpotensi terjadi pada bulan Desember yang meliputi wilayah Kulonprogo bagian barat dan selatan.

Kemudian potensi kedua terjadi pada bulan Februari 2024. Untuk periode tersebut wilayah yang mengalami puncak musim hampir merata di seluruh DIY. Yakni Kota Jogja, Gunungkidul,  Bantul, serta Kulonprogo bagian utara, timur dan tenggara.

“Sifat hujan selama musim hujan untuk tahun 2024-2025 diprediksi seluruhnya dalam kategori normal,” ujar Reni dalam keterangannya, Rabu (25/9).

Baca Juga: Penyebab Kecelakaan Truk BPBD Kebumen Yang Tewaskan Anggotanya karena Jalan Licin dan Sempit 

Baca Juga: Dukung YIA, 152 Bidang Tanah di Purworejo Akan Dibebaskan untuk Pembangunan Pengendali Banjir dan Pengaman Pantai

Sementara untuk sekarang, kata Reni, wilayah DIY tengah memasuki masa peralihan musim dari kemarau ke penghujan atau pancaroba. Adapun pancaroba di DIY terjadi selama pertengahan September hingga pertengahan Oktober mendatang.

Selama masa tersebut, dia menghimbau agar masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrim. Sebab selama pancaroba kondisi cuaca akan berupa hujan lebat disertai angin kencang. Serta dapat mengakibatkan puting beliung.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan ada potensi hujan es yang bisa terjadi pada periode tersebut,” beber Reni. 

Reni pun berpesan, agar pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu siaga selama masa pancaroba dan puncak musim hujan. Terlebih bagi yang bertempat tinggal di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang.

Dia pun meminta, agar masyarakat juga mulai membersihkan saluran air, memangkas pohon dan memastikan kekuatan baliho yang berada di jalan raya. Termasuk melakukan berbagai tindakan mitigasi pada wilayah masing-masing.

Baca Juga: Mengenal Bagaskara Dwitya, Mahasiswa UMY yang Suka Bidang Film dan Bercita-cita Bekerja di Industri Media

Baca Juga: Tiga Poin Harus Direbut demi Amankan Puncak Klasemen, tapi PSIM Jogja Terkendala Main di Lapangan Sintetis

Baca Juga: Kurang dari 24 Jam Tiga Lakalantas di Kulon Progo, Dua di Antaranya Disebabkan Bus Ugal-ugalan

“Bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani juga mulai melakukan penyesuaian pola tanam,” imbuh Reni.

Disisi lain, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu juga meminta, agar masyarakat mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sebab nyamuk cenderung mudah berkembang biak selama musim hujan.

Dia membeberkan, bahwa hingga Agustus sudah ditemukan sebanyak 213 kasus DBD. Faktornya dapat disebabkan karena mulai menurunnya kesadaran masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Sehingga saya berharap agar masyarakat mulai kembali menggencarkan PSN dengan gerakan 3M.  Yakni menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, mengubur dan mendaur ulang barang bekas tidak terpakai,” pesannya. (inu)

Editor : Heru Pratomo
#klimatologi #bmkg yogyakarta #kepala stasiun #potensi cuaca #cuaca ekstem #Hujan