Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inflasi DIY Terjaga Selama 10 tahun Terakhir, Ditargetkan Berada di Kisaran 2,5 Persen pada 2024

Gregorius Bramantyo • Selasa, 24 September 2024 | 02:38 WIB

 

 

 

KOMODITAS UTAMA: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman.
KOMODITAS UTAMA: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman.

 

 

 

JOGJA – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY menyebut inflasi di DIY selalu terjaga di rentang sasarannya dalam 10 tahun terakhir. Meskipun inflasi pernah meningkat hingga angka 6,81 persen secara tahunan pada September 2022 usai pandemi Covid-19.

 Baca Juga: Pasokan Berkurang, Beras Jadi Komoditas Utama Penyumbang Inflasi di DIY pada Agustus 2024

Kepala Perwakilan BI DIY Ibrahim mengatakan, inflasi DIY pada 2024 ditargetkan berada pada sasaran 2,5 persen dengan plus minus 1 persen secara tahunan. Upaya menjaga inflasi, katanya, didukung oleh kondisi cuaca yang baik dalam produksi pertanian. “Serta berlanjutnya upaya pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)," katanya. Senin (23/9/2024).

 

Namun, ia menyebut ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, yaitu tantangan seasonal dan struktural. Tantangan seasonal misalnya tingginya biaya produksi yang berdampak pada harga gabah. Lalu kebijakan restriksi ekspor beras di beberapa negara mitra dagang utama Indonesia. Serta anomali iklim yang berdampak pada produktivitas tanaman. “Kenaikan tren konsumsi masyarakat terhadap komoditas beras, terutama beras medium. Juga perlu penguatan data dan informasi terkait pasokan," ujar Ibrahim.

 Baca Juga: Gubernur Bank Indonesia Kukuhkan Ibrahim Sebagai Kepala Kantor Perwakilan DIY, Pemprov-BI DIY Perkuat Kerja Sama Wujudkan Ekonomi Sejahtera

Sedangkan tantangan struktural yakni perlu adanya penguatan kelembagaan price reference store melalui Segoro Amarto. Serta upaya penguatan di sisi hulu melalui fasilitasi penelitian dan pengembangan terkait tanaman pangan. “Baik di level intra maupun antar regional,” ucap Ibrahim.

 Baca Juga: Februari Inflasi DIY Lebih Tinggi Dibanding Nasional, Ditengarai karena Kenaikan Harga Beras 

Sementara upaya pengendalian inflasi di DIY dilakukan dengan berbagai upaya dan koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY dan stakeholder terkait. Ibrahim menyebut, pihaknya juga melakukan langkah dengan mengimplementasi kerangka 4K sesuai peta jalan TPID DIY 2020-2024.

 Baca Juga: Jamin Perputaran Uang Aman, Bank Indonesia Siapkan Rp. 4,255 Triliun

Seperti aspek keterjangkauan harga melalui intensifikasi penyelenggaraan operasi pasar, gelar pangan murah, pasar murah di seluruh kabupaten dan kota di DIY. Diikuti dengan optimalisasi peran Kios Segoro Amarto sebagai price reference store. “Replikasi Kios Segoro Amarto di empat pasar pantauan yakni Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, Pasar Prawirotaman dan Pasar Sentul,” katanya.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, komoditas inflasi pada Agustus 2024 dipicu oleh beras, bensin, emas perhiasan, dan cabai rawit. Provinsi DIY sendiri mengalami inflasi pada Agustus sebesar 0,05 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).

 Baca Juga: BI DIY Prediksi Inflasi DIY Tetap Terjaga pada Targetnya, Berikut Penjelasannya!

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, DIY pada Agustus 2024 kembali inflasi setelah beberapa bulan mengalami deflasi. Hal itu disebabkan kenaikan harga seperti beras. Juga komoditas yang sepanjang tahun nyaris naik terus seperti emas perhiasan. Agustus kopi juga tercatat masuk lima komoditas yang mengalami inflasi, meskipun sebelumnya tidak. “Bensin tercatat bulan sebelumnya mengalami kenaikan, kita lihat di September ini seperti apa,” ujar Herum.

 

Ia mengungkapkan, ada kemungkinan beras menjadi penyumbang inflasi hingga masa panennya. Dalam artian ketika jumlah panenan tidak sebesar atau belum mencukupi kebutuhan yang ada. Dikatakan, secara musiman memang biasanya di bulan kemarau harga gabah cenderung naik. Sehingga beras juga mengalami kenaikan harga. “Namun demikian kalau ada pasokan dari daerah lain, tidak menutup kemungkinan bisa relatif lebih stabil,” jelasnya. (tyo)

Editor : Din Miftahudin
#Inflasi DIY #Bank Indonesia (BI) DIJ #Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan