JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut pertumbuhan awan hujan mulai meningkat signifikan. Kondisi itu diprediksi dapat mengakibatkan hujan disertai angin kencang untuk beberapa hari kedepan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil analisa atmosfer pihaknya melihat pola angin timuran masih mendominasi. Khususnya di wilayah Jawa hingga Bali termasuk Yogyakarta.
Kemudian, dari pantauan suhu muka laut dalam skala harian hingga mingguan pun terpantau lebih hangat dibandingkan keadaan normal. Rata-rata suhunya mencapai 28-29 derajat celcius dengan anomali antara 0,5 hingga 1,5 derajat celcius.
“Sementara di Samudera Hindia terpantau 26-28 derajat celcius dengan dengan anomali suhu muka laut sekitar 0,5 hingga 1,5 derajat celcius. Cenderung lebih hangat dari keadaan normalnya,” ujar Warjono dalam keterangannya, Senin (23/9/2024).
Warjono melanjutkan, dari hasil analisis terkini profil vertikal kelembaban udara juga cenderung basah. Contohnya pada ketinggian 850 mb tingkat kelembaban sebesar 80-90 persen. Lalu pada ketinggian 700 mb berkisar 80-90 persen. Untuk ketinggian 500 mb pun sama, kelembaban sekitar 80-90 persen.
“Dengan kategori basah, potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY cukup signifikan,” terangnya.
Adanya kondisi tersebut, menurut dia, dapat mengakibatkan kondisi cuaca berupa hujan lebat hingga tiga hari kedepan. Contohnya pada Selasa (24/9/2024) ada potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di Sleman, Kota Jogja, Kulonprogo bagian utara, Bantul bagian utara dan Gunungkidul bagian utara. Serta potensi hujan ringan hingga sedang merata di seluruh wilayah
Kemudian pada Rabu (25/9/204) kondisi cuaca kemungkinan ada potensi hujan ringan hingga sedang di Sleman, Kulonprogo bagian utara, Kota Jogja, Bantul bagian utara, dan Gunungkidul. Serta di hari Kamis (26/9/2024) dengan kondisi cuaca dan sebaran wilayah yang sama.
“Kami himbau masyarakat waspada potensi hujan sedang – lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang tanggal 24 September 2024. Karena dapat memicu bencana hidrometeorologi berupa pohon tumbang, banjir, juga tanah longsor,” pesan Warjono.
Menghadapi musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menyebut ada ribuan kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayah rawan banjir. Sehingga pihaknya mulai mengoptimalkan peran personil dan anggota kampung tangguh Bencana (KTB).
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, dari catatannya ada sekitar 3.704 KK yang tinggal di daerah rawan luapan sungai. Jumlah itu tersebar pada tiga wilayah yang dialiri tiga sungai besar. Yakni Sungai Winongo, Sungai Code, dan Sungai Gajahwong.
“Kami berharap masyarakat mengenali kebencanaan, karena merespon bencana ini sangat penting. Setidaknya dapat terminimalisir kerusakan,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin