JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta masyarakat untuk waspada terhadap suhu panas. Sebab pada masa pancaroba suhu udara yang diprediksi bakal meningkat.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pada periode pancaroba di bulan September hingga Oktober suhu udara maksimal dapat mencapai antara 32 hingga 36 derajat celcius. Kondisi tersebut tentunya akan membuat udara terasa cukup panas.
Menurut dia, prediksi suhu udara panas itu berdasar dari hasil pemantauan musim pancaroba selama sepuluh tahun terakhir. Adapun suhu paling tinggi tercatat pada tahun 2019 lalu dengan capaian 36,4 derajat celcius. Serta tahun 2023 dengan suhu 35,6 derajat celcius.
“Pancaroba berlangsung bulan September hingga Oktober, suhu minimal dan maksimalnya pada kisaran 32 hingga 36.4 derajat celcius,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Senin (16/9).
Sementara untuk catatan selama sepuluh hari terakhir, Reni menyebut masih berada pada kisaran 30 hingga 33 derajat celcius. Untuk suhu tertinggi tercatat 33,9 derajat celcius pada tanggal 6 September 2024 lalu.
Atas kondisi itu, dia menghimbau agar masyarakat mulai mewaspadai berbagai potensi bencana dan permasalahan kesehatan. Sebab selama masa pancaroba tidak hanya meningkatkan potensi kekeringan namun juga berbagai bencana hidrometeorologi.
“Ada potensi bencana seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir yang dapat membangkitkan pohon tumbang,” kata Reni.
Dari sisi kesehatan, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengimbau, agar masyarakat mulai melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di antaranya dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang seperti buah dan sayur.
Lalu juga minum air putih minimal delapan gelas per hari meskipun tidak haus. Selain itu juga penting menghindari minuman dingin dan asap rokok. Serta rutin olahraga teratur dan istirahat cukup.
“Sebab infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan diare merupakan jenis penyakit yang paling mengancam saat pancaroba,” ungkap Endang. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin