JOGJA - Limbah popok bayi harus menjadi perhatian pemerintah kota (pemkot) Jogja. Pasalnya, limbah tersebut mendominasi jenis sampah sungai di Kota Jogja.
Ketua Tim Kerja Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Endar Rohmadi mengatakan, limbah popok memang ditemukan pada semua sungai. Baik itu limbah popok bayi maupun popok dewasa.
“Menurut informasi dari satuan tugas kebersihan sungai, mayoritas popok bayi,” ujar Endar saat dikonfirmasi, Senin (16/9).
Endar mengungkapkan, jumlah produksi sampah sungai termasuk limbah popok juga mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu pada periode Januari-Agustus. Contohnya di Sungai Winongo yang pada tahun ini produksi sampahnya mencapai kisaran 15 ton. Padahal untuk tahun lalu sekitar 5 ton.
Kemudian juga di Sungai Code, untuk tahun ini produksi sampah mencapai lebih dari 55 ton. Jumlah itu diketahui mengalami peningkatan sekitar 10 ton karena pada tahun lalu hanya 45 ton.
Sementara untuk Sungai Manunggal, DLH Kota Jogja mencatat produksi sampah sungai tahun ini mencapai 25 ton. Naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berkisar 15 ton.
“Untuk Sungai Gajahwong temuan sampahnya kami catat sekitar 30 ton, untuk tahun lalu berkisar 20 ton,” terang Endar.
Menurut Endar, dalam pembersihan sampah sungai di Kota Jogja pihaknya memprioritaskan penanganan terhadap sampah anorganik. Sebab merupakan jenis sampah yang memiliki dampak buruk terhadap ekosistem sungai.
Sementara untuk sampah organik seperti daun atau pohon tumbang hanya dipinggirkan agar tidak menyumbat aliran sungai. Pun sampah organik membusuk dan tidak terlalu berdampak buruk terhadap sungai.
“Untuk yang kami angkut sekarang hanya anorganik dan residu saja,” ungkap Endar.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Aman Yuriadijaya mengaku, pihaknya terus berupaya menemukan metode yang tepat untuk pengelolaan sampah. Baik itu untuk pengolahan sampah organik maupun anorganik.
Dia pun berharap, agar masyarakat mau membantu pemerintah untuk mengurangi produksi sampah. Upayanya dapat dilakukan dengan mengolah sampah melalui rumah tangga masing-masing.
“Pengolahan sampah skala rumah tangga itu kunci,” tegas Aman. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin