RADAR JOGJA - Diabetes melitus (DM) jadi salah satu penyakit metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi, dan sangat mempengaruhi kualitas hidup penyandangnya. Sehingga penyakit ini perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
DM sendiri adalah gangguan pada metabolisme tubuh yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah, yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu. DM yang kita kenal sebagai kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul akibat berkurangnya produksi hormon insulin tubuh, dan terjadinya penurunan fungsi kerja hormon insulin.
Baca Juga: PSS Sleman Berharap Ulangi Kemenangan atas Bali United seperti Awal Musim Lalu, Mungkinkah?
Dosen Departemen Penyakit Dalam FK-KMK UGM sekaligus dokter konsultan endokrin, metabolik dan diabetes RSUP Dr Sardjito, Dr dr Mohammad Robikhul Ikhsan berujar, sampai saat belum ditemukan cara atau pengobatan yang dapat menyembuhkan diabetes secara menyeluruh.
Namun harus diingat diabetes bisa dicegah dengan gaya hidup sehat dan dapat dikendalikan. Pengendaliannya dengan cara pengaturan diet, latihan fisik atau olahraga, dan dengan obat-obatan, katanya kepada Radar Jogja Minggu (15/9/2024).
Robi menerangkan, DM jadi salah satu penyakit degeneratif dengan sifat kronis yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Menilik data WHO pada tahun 2015, terdapat 415 juta orang di seluruh dunia hidup dengan DM, dan diprediksi mencapai 642 juta pada tahun 2040.
Lalu menurut International Diabetes Federation (IDF), saat ini Indonesia ada di peringkat ke-7 dunia dari 10 besar negara dengan jumlah penyandang DM tertinggi. “Dari riset kesehatan dasar 2018, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5 persen masyarakat dengan rentang usia di atas 15 tahun,” paparnya.
Secara garis besar, Robi menyebutkan bahwa DM, terutama di negara berkembang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup. Yakni semakin membaiknya tingkat ekonomi ternyata belum diikuti kesadaran pola hidup yang sehat juga. “Sehingga gaya hidup yang tidak sehat itu jadi penyebab paling sering diabetes,” urainya.
Robi juga menyadari, belakangan DM cukup banyak diidap oleh anak-anak muda, bahkan anak kecil. Munculnya DM pada anak-anak, kata Robi, bisa disebabkan beberapa hal.
Ia menjelaskan, ada klasifikasi DM tipe 1 yang lebih sering terjadi pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi dari organ produksi insulin karena kondisi autoimun. Selain itu, kegemukan dan gaya hidup sedentari pada anak-anak juga bisa menjadi pemicu terjadinya diabetes tipe 2 yang lebih awal, terutama pada usia remaja.
"Secara klasifikasi DM terbagi jadi tipe 1 yang biasa muncul pada anak-anak, tipe 2 yang paling umum terjadi pada usia dewasa, serta diabetes kehamilan dan tipe lain dari faktor obat-obatan dan cedera pankreas. Tentu ini dapat dicegah dengan edukasi pada remaja, pentingnya menjaga gaya hidup sehat,” pesannya.
Lebih lanjut ditegaskan, tatalaksana DM yang paling baik adalah upaya pencegahan. Dimulai dari upaya pengenalan faktor risiko dan melakukan modifikasi faktor risiko tersebut, agar tidak menyebabkan diabetes muncul.
Faktor risiko yang bisa dimodifikasi, antara lain, gaya hidup, pola makan, aktivitas fisik yang cukup sehingga tidak menimbulkan kegemukan atau obesitas. “Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, antara lain, faktor keturunan, dan usia,” bebernya.
Robi juga berujar, pemerintah punya peran signifikan dalam upaya penanganan DM di Indonesia. Sebab, pemerintah merupakan pemangku kepentingan penting dalam penanggulangan DM di masyarakat.
Ia menyarankan beberapa kebijakan yang bersifat umum harusnya bisa diterapkan seperti pemantauan dan pemberian label terhadap nilai gizi pada produk makanan yang dijual.
Selain itu memperbanyak ruang terbuka untuk masyarakat agar dapat melakukan latihan fisik dengan lebih baik. “Selain itu, papan-papan edukasi terkait DM juga bisa diperbanyak,” tuturnya.
Lalu dalam lingkup FK-KMK UGM sendiri, Robi mengatakan FK-KMK UGM sudah terintegrasi terkait gaya hidup sehat, baik secara intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Mulai dari penelitian berbasis masyarakat soal diabetes sudah sangat banyak, baik dari sudut pandang kesehatan, kebijakan publik maupun pendekatan gizi.
Lalu secara khusus dalam kurikulum baik pendidikan dokter, kesehatan masyarakat atau pemeliharaan kesehatan, juga telah terintegrasi Yakni upaya dalam setiap tahap pendidikan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit metabolik seperti DM, hipertensi, gangguan kolesterol dan lain-lain. “Sehingga diharapkan dapat memberikan lebih banyak informasi kepada masyarakat pada umumnya,” tandasnya (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita