Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gamelan Kyai Guntur Madu dan Naga Wilaga Ditabuh Seminggu, Pertanda Sekaten Dimulai, sebagai Simbol Syiar Islam ala Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 13 September 2024 | 02:19 WIB

 

Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pusaka keraton ditabuh selama satu minggu penuh sebagai simbol syiar islam dan tanda dimulainya Sekaten 2024.
Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pusaka keraton ditabuh selama satu minggu penuh sebagai simbol syiar islam dan tanda dimulainya Sekaten 2024.

 

 

 Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan khas adat dan budayanya. Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pusaka keraton ditabuh selama satu minggu penuh sebagai simbol syiar Islam dan tanda dimulainya Sekaten 2024.

Terdapat rangkaian acara untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Mulai dari Geladi Resik Prajurit (8/9), Miyos Gangsa (9/9), Numplak Wajik (13/9), Kondur Gangsa (15/9), dan terakhir Garebeg Mulud (16/9).

Dari seluruh perayaan tersebut Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga tidak bisa dipisahkan selama acara. Gamelan tersebut merupakan pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono 1.

Tidak sembarangan dalam mengeluarkannya dari keraton, Miyos Gangsa merupakan upacara atau ritual untuk mengeluarkan gamelan tersebut menuju ke Masjid Gedhe Kauman. Dinilai lebih tua, Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Kidul sedangkan Kyai Naga Wilaga di Pagongan Lor.

 Baca Juga: Jamasan Kereta Keraton Jogja Kini Dilakukan Tertutup, Jadi Barang Pusaka sehingga Tidak Boleh Didokumentasilkan

Kehartakan/Bendahara 1 Kawedanan Pengulon Keraton Jogja Bushaeri atau M Ry Sarihartaka Dipuro mengatakan dua gamelan tersebut dibunyikan selama satu minggu penuh. Sesuai dengan adat, hanya pada malam Jumat gamelan tersebut tidak dibunyikan."Dibunyikan pukul 08.00-12.00 kemudian dilanjut sampai malam," ujarnya.

Terdapat beberapa syarat khsusus untuk membunyikan pusaka keraton tersebut. Sesajen seperti bunga-bungaan dan beberapa dupa ataupun kemenyan disiapkan sepanjang gamelan dibunyikan."Tujuanya kebih kepada untuk wewangian. Bunga kantil contohnya pelambang kesucian," tuturnya.

Kedua gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian. Disekeliling Pagongan baik Lor ataupun Kidul terdapat beberap uba rampe yang disiapkan oleh para abdi dalem. Kepulan asap dari kemenyan yang dibakar merupakan tanda bahwa gamelan akan segera dibunyikan oleh para wiyaga (penabuh)."Itu (gamelan) merupakan perantara untuk syiar, masyarakat sekitar hafal apabila ini bunyi berarti ada peringatan Maulid Nabi," jelasnya.

Salah seorang abdi dalem sekaligus yang mengurusi urusan penyelenggaraan Sekaten, RB Muhamad Burhanuddin menambahkan Sekaten diambil dari kata syahadatain (dua kalimat syahadat). Gendhing atau lagu yang dibawakan saat gamelan dibunyikan mengandung unsur dakwah islam. Instrumen gamelan Sekaten menggunakan laras Pelog."Asale saka tembung basa Arab "falakh", kang tegese kasenengan (asalnya dari bahasa arab Falakh yang artinya kebahagiaan)," ujarnya.

Baca Juga: Mengungkap Fakta-fakta Unik Abdi Dalem Keraton Jogja: Pelayan Setia Keraton yang Penuh Dedikasi

Gendhing Sekaten terbagi menjadi tiga yakni Gendhing Lawas Pelog Pathet Limo, Pathet Nem dan Pathet Barang. Gendhing Pathet Limo untuk membawakan gendhing rambu, rangkung, lung gadhung, andong-andong dan yaumi (yahume). Gending laras pelog pathet nem untuk membawakan gendhing salatun, ngajarun, atur atur, gliyung, dhendang subingah, muri putih, orang aring dan bayemtur. Terakhir yakni laras pathet barang untuk membawakan gendhing srundeng gosong dan supiyatun.

Naman-nama gendhing yang dibawakan sarat akan makna mendalam yang sangat religius. Gending Rambu diambil dari kata 'Robbunaa' yang berarti Allah Pangeranku. Gendiing Rangkung dari kata 'Ra'aakum' yang artinya sing ngrumat sliramu (yang merawatmu). Gendhing Yaumi atau Yahume, diambil dari bahasa arab "Dina" yang dimaknai sebagai hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Gending Salatun dari kata Shalat yang diartikan sebagi berdoa atau menyembah Allah SWT. Gending Ngajatun berasal dari kata 'hajat' yang artinya kemauan. Gending Dhendhang Subingah diartikan sebagai mengenang jasa para mubalig yang menyiarkan agama islam dari abad XIII Hijriyah."Gendhing Supiyatun berasal dari kata 'sifiah' yang artinya bersih dan suci baik pikiran maupun hati," bebernya. (oso/din)

 

 

 

 

Editor : Din Miftahudin
#Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat #gamelan #sekaten #Masjid Gede Kauman Jogjakarta